Minggu, 8 November 2026 WIB
POLITIK PEMERINTAHAN

Stephen Miller Ambil Kursi Kepala Staf, Agenda Imigrasi Trump Disorot

Stephen Miller Ambil Kursi Kepala Staf, Agenda Imigrasi Trump Disorot
Stephen Miller Ambil Kursi Kepala Staf, Agenda Imigrasi Trump Disorot

WASHINGTON — Stephen Miller menjadi kepala staf Gedung Putih mulai Senin setelah Donald Trump menunjuknya, sebuah perubahan yang menguatkan kekhawatiran bahwa pemerintahan AS akan mempertahankan pendekatan keras terhadap imigrasi. Miller, arsitek kebijakan imigrasi Trump, menyatakan kesetiaan penuh kepada presiden dalam penampilan publik pertamanya setelah penunjukan.

Pengangkatan itu diumumkan setelah Partai Republik mengalami kekalahan dalam pemilu paruh waktu Amerika Serikat. Perubahan di lingkaran inti pemerintahan dapat menentukan arah kebijakan imigrasi sekaligus hubungan Gedung Putih dengan Demokrat yang kembali menguasai Kongres.

Stephen Miller dan agenda imigrasi Trump

Dalam acara pada Jumat malam, Miller berdiri di samping Trump dan memuji kepemimpinan presiden. Ia menyampaikan janji loyalitas saat sejumlah pihak mencemaskan pemerintah akan semakin menegaskan agenda imigrasi yang keras dan berhaluan nasionalis.

“Merupakan kehormatan dalam hidup saya menjadi kepala staf Presiden Trump, dan saya bersumpah kepada Anda, dan berjanji kepada Anda, Tuan Presiden, kesetiaan mutlak, komitmen teguh, dan pengabdian total saya untuk keberhasilan Anda dan keberhasilan negara ini,” kata Miller.

Miller sebelumnya menjabat wakil kepala staf Gedung Putih dan memimpin kebijakan imigrasi pemerintahan. Ia dikenal sebagai salah satu penasihat Trump yang paling dekat dan berpengaruh dalam isu tersebut. Masa jabatannya yang baru membuatnya tetap berada di posisi penting ketika pemerintahan menentukan langkah berikutnya.

Mengapa penunjukan Miller jadi perhatian?

Penunjukan Miller berlangsung setelah kekalahan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu. Hingga Sabtu pagi, Partai Republik kehilangan tujuh kursi Senat, sementara Demokrat unggul tipis dalam dua persaingan di Alaska dan Mississippi yang belum diputuskan. Partai Republik juga kehilangan 42 kursi di DPR dan lima pemilihan gubernur.

Sejumlah elite Republik, termasuk JD Vance, mengaitkan kekalahan itu dengan perang Iran dan tarif, dua unsur penting agenda Trump. Namun, Miller justru memuji presiden karena dianggap telah menyelamatkan dan memperkuat Partai Republik.

Dampaknya melampaui pergantian jabatan. Arah kebijakan imigrasi dapat memengaruhi komunitas pendatang dan pemilih yang menjadi sasaran kebijakan pemerintah, sementara posisi Miller memberi sinyal bahwa agenda yang ia pimpin tetap mendapat tempat di pusat pengambilan keputusan.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

Artikel Untuk Anda

📲
Ikuti JournalArta di WhatsApp & Telegram

Berita terpenting nasional, ekonomi, dan teknologi langsung di HP-mu. Gratis, tanpa spam.

Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Uji dirimuKuis Sejarah Hari Pahlawan: 10 Soal Pertempuran Surabaya 1945, Berapa Skormu? →