Dukungan dua partai ultra-Ortodoks, United Torah Judaism dan Shas, dapat membawa kubu Eisenkot tepat ke 61 kursi. Ia juga dapat mencoba membentuk pemerintahan dengan jumlah kursi lebih sedikit, tetapi harus memenangi pemungutan suara kepercayaan di parlemen.
Hitungan itu membuat setiap dukungan berpotensi menentukan arah pemerintahan. Bagi warga Israel, hasil perundingan akan menentukan apakah negara memiliki kabinet baru atau tetap dipimpin pemerintahan sementara selama proses politik berlanjut.
Netanyahu masih bisa kembali mendapat mandat
Eisenkot memiliki enam minggu untuk membentuk pemerintahan, menurut keterangan dalam bahan utama. Namun, laporan pembanding menyebut masa mandatnya 28 hari. Perbedaan durasi itu membuat tenggat pembentukan kabinet perlu dicermati; keduanya sama-sama menggambarkan proses negosiasi yang terbatas waktunya.
Al Jazeera melaporkan melalui jurnalis Nour Odeh dari Ramallah bahwa Netanyahu masih dapat menghambat upaya Eisenkot dan menghalangi perolehan suara kepercayaan. Selama proses berjalan, Netanyahu tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara.
Jika Eisenkot gagal, Netanyahu dapat menjadi tokoh berikutnya yang diminta membentuk pemerintahan. Apabila upaya itu juga kandas, pemilu baru dapat digelar, sementara Netanyahu masih berstatus perdana menteri sementara.
Eisenkot pernah memimpin militer Israel pada 2015 hingga 2019. Ia juga duduk sebagai pengamat dalam kabinet perang Netanyahu selama delapan bulan pertama perang di Gaza, yang dimulai pada Oktober 2023.
Perkembangan berikutnya bergantung pada hasil pendekatan Eisenkot kepada Likud, Partai Zionis Religius, dan partai-partai ultra-Ortodoks sebelum tenggat pembentukan pemerintahan berakhir.











































📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.