JAKARTA — Kompleksitas ekonomi Indonesia masih tertinggal dari Vietnam, meski ekonomi nasional tumbuh 5,47% pada kuartal III-2026. Perbandingan ini penting bagi industri dan pekerja: pertumbuhan tinggi belum otomatis berarti perusahaan lokal menguasai teknologi dan mendapat nilai tambah lebih besar.
Data perdagangan 2024 menempatkan Indonesia di peringkat ke-69 Indeks Kompleksitas Ekonomi, dengan skor 0,23. Vietnam berada di peringkat ke-45 dengan skor 0,63. Angka itu memberi gambaran tentang keragaman produk ekspor dan tingkat pengetahuan yang dibutuhkan untuk membuatnya.
Namun, pertumbuhan kedua negara tidak bisa dinilai dari angka mentah saja. Vietnam mencatat pertumbuhan 9,95% pada kuartal yang sama, tetapi ukuran ekonominya lebih kecil dan berada dalam fase mengejar ketertinggalan. Inti persaingannya ada pada kemampuan membangun industri dan memperkuat posisi dalam rantai pasok global.
Kompleksitas ekonomi Indonesia tertinggal
Indeks Kompleksitas Ekonomi atau ECI mengukur keragaman produk ekspor suatu negara serta seberapa banyak negara lain mampu membuat produk yang sama. Produk yang hanya dapat diproduksi oleh sedikit negara dianggap mencerminkan pengetahuan produksi yang lebih rumit.
Dalam rentang 2019-2024, Vietnam naik sepuluh peringkat, sedangkan Indonesia turun sebelas peringkat. Atlas of Economic Complexity dari Harvard Growth Lab mengaitkan penurunan Indonesia dengan kurangnya diversifikasi ekspor.
Indeks itu tetap punya batas. Perhitungannya memakai data ekspor berdasarkan negara pengekspor, bukan kepemilikan perusahaan. Karena itu, produksi perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia ikut tercatat dan tidak serta-merta menunjukkan kemampuan produsen lokal.
ECI juga bukan ukuran langsung nilai tambah domestik. Jadi, peringkatnya berguna untuk membaca struktur ekspor, tetapi tidak cukup untuk menilai seluruh kemampuan industri nasional.
Ekspor Vietnam besar, nilai lokal jadi tantangan
Vietnam menunjukkan betapa cepatnya sebuah negara masuk ke rantai pasok manufaktur dunia. Pada sembilan bulan pertama 2026, ekspornya naik 24,5% menjadi US$434,3 miliar. Impor tumbuh lebih cepat, yakni 36,7%, menjadi US$453,7 miliar.
Selisih itu membuat neraca barang Vietnam defisit US$19,4 miliar. Defisit tersebut menyusut menjadi sekitar US$12,1 miliar pada periode sepuluh bulan setelah Vietnam mencatat surplus pada September dan Oktober.
Impor yang tinggi berkaitan erat dengan kebutuhan produksi. Sebanyak 94,1% impor Vietnam berupa barang input, sementara investasi asing langsung yang terealisasi mencapai US$21,1 miliar. Nilai itu menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir, dengan 82,6% investasi mengalir ke industri pengolahan.
Tetapi, ekspor besar belum tentu berarti nilai tambahnya tinggal di dalam negeri. Komputer dan produk elektronik menjadi kelompok ekspor terbesar Vietnam, sekitar US$124 miliar, sekaligus kelompok impor terbesar dengan nilai sekitar US$189 miliar. Defisit sektor tersebut mencapai US$65 miliar.
Perusahaan asing, termasuk yang bergerak di minyak mentah, menyumbang 80,7% ekspor Vietnam. Perusahaan domestik berkontribusi 19,3%. Bank Dunia mencatat porsi perusahaan Vietnam yang terhubung dengan rantai nilai global turun dari 35% pada 2009 menjadi 18% pada 2023.
Vietnam berhasil menjadi lokasi perakitan bagi pabrik dunia. Tantangan berikutnya ialah membuat lebih banyak pengetahuan dan kemampuan produksi menetap pada perusahaan nasional, bukan hanya mengandalkan komponen impor dan investasi asing.
Manufaktur Indonesia belum menjamin ekspor kompleks
Indonesia juga menghadapi jarak antara besarnya kegiatan industri dan tingkat kecanggihan produk. Industri pengolahan menyumbang sekitar 19% PDB dan menjadi sumber pertumbuhan terbesar pada kuartal III-2026, dengan andil 1,20 poin persentase.
Namun, surplus perdagangan nonmigas Indonesia sebesar US$34,2 miliar pada Januari-September 2026 terutama ditopang produk lemak dan minyak hewani atau nabati sebesar US$29,3 miliar. Bahan bakar mineral menyumbang US$21,4 miliar, sedangkan besi dan baja mencapai US$14,0 miliar.
Di antara lima penyumbang surplus terbesar, alas kaki menjadi satu-satunya produk padat karya, dengan surplus US$4,9 miliar. Komposisi itu menunjukkan bahwa nilai ekspor dapat meningkat tanpa memperluas jenis produk berteknologi tinggi yang dikuasai industri dalam negeri.
Hilirisasi pun perlu dinilai dari hasil akhirnya. Pengolahan komoditas menjadi produk perantara dapat menaikkan nilai ekspor, tetapi belum tentu memperdalam teknologi, memperluas ragam produk, atau meningkatkan kemampuan pemasok lokal.
Dampaknya terasa pada kualitas pekerjaan dan peluang usaha di dalam negeri. Jika investasi hanya membangun lini perakitan dengan komponen impor, perusahaan nasional berisiko mendapat porsi terbatas dalam rantai pasok. Sebaliknya, keterhubungan dengan pemasok lokal membuka jalan bagi pengetahuan produksi dan peningkatan produktivitas untuk menyebar ke usaha domestik.
Investasi perlu memperkuat pemasok lokal
Pelajaran dari kajian Javorcik atas data Lituania menunjukkan limpahan produktivitas dari investasi asing terutama mengalir melalui hubungan dengan pemasok lokal di bagian hulu. Dampaknya tidak terutama datang dari perusahaan asing yang sekadar bersaing di sektor yang sama.
Karena itu, kebijakan investasi perlu mengukur keterlibatan pemasok dalam negeri dan transfer pengetahuan secara jelas. Insentif fiskal seperti pembebasan atau pengurangan pajak, menurut bahan kebijakan yang dibahas, seharusnya terkait dengan target kinerja yang terukur, bukan diberikan tanpa syarat kinerja.
Badan Pusat Statistik melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% secara tahunan pada kuartal III-2026. Angka itu menunjukkan laju pertumbuhan, sementara peringkat kompleksitas mengingatkan bahwa kualitas produksi dan kemampuan industri lokal juga menentukan arah persaingan.










































📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.