JAKARTA — Playing victim dalam Islam bertentangan dengan ajaran untuk introspeksi dan bertanggung jawab, sementara dua cirinya terlihat dalam sikap enggan mengakui kesalahan dan mudah merasa disakiti. Perilaku ini dapat merusak hubungan sosial ketika seseorang terus menyalahkan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang melakukan playing victim kerap merasa dirinya selalu dirugikan dan tidak pernah bersalah. Sikap itu dapat dipakai untuk menghindari tanggung jawab, mencari simpati, atau memengaruhi orang lain demi kepentingan pribadi.
Playing victim dalam Islam dan tanggung jawab
Islam mengajarkan umatnya untuk bersabar, bersyukur, bertawakal, dan memeriksa diri ketika menghadapi persoalan. Membela diri saat dizalimi dibolehkan, tetapi berpura-pura menjadi korban untuk menutupi kesalahan sendiri bukan akhlak yang dibenarkan.
Perbedaan itu penting dalam hubungan sehari-hari. Seseorang berhak menyampaikan bahwa dirinya diperlakukan tidak adil, tetapi tetap perlu melihat persoalan secara jujur dan mengakui bagian kesalahannya bila memang ada.
Dua ciri yang dijelaskan dalam bahan
Ciri pertama ialah tidak mau mengakui kesalahan. Saat masalah muncul, orang dengan perilaku ini cenderung menunjuk orang lain sebagai penyebab, alih-alih melakukan introspeksi. Padahal, kesalahan dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki diri.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa musibah terjadi dengan izin Allah dan orang beriman mendapat petunjuk bagi hatinya. Dalam Surah At-Taghabun ayat 11, Allah berfirman, “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Pesan ayat itu mengajak seorang Mukmin menerima ketentuan Allah dengan iman dan kesabaran, bukan menjadikan keadaan sebagai alasan untuk terus menyalahkan orang lain. Sikap bertanggung jawab juga memberi ruang bagi seseorang untuk memperbaiki tindakannya.
Ciri kedua ialah mudah merasa disakiti atau tidak dihargai. Persoalan sederhana yang belum tentu merupakan perlakuan buruk dapat dianggap sebagai upaya merendahkan diri. Jika dibiarkan, perasaan itu dapat berkembang menjadi prasangka terhadap orang lain.
Prasangka dapat merenggangkan persaudaraan
Rasulullah SAW mengingatkan umat Islam agar tidak saling dengki, membenci, dan membelakangi. Hadis riwayat Muslim itu menegaskan pentingnya menjaga hubungan, terutama ketika seseorang sedang menilai sikap orang lain kepadanya.
Dampaknya terasa dalam hubungan keluarga, pertemanan, maupun lingkungan kerja. Jika setiap perbedaan dianggap sebagai serangan, persoalan sulit dibicarakan dengan jernih. Orang yang merasa menjadi korban terus-menerus juga dapat menutup kesempatan untuk berdamai karena tanggung jawab selalu diletakkan pada pihak lain.
Introspeksi bukan berarti mengabaikan perlakuan zalim atau menolak membela diri. Ajaran Islam membedakan pembelaan terhadap orang yang benar-benar dizalimi dari sikap berpura-pura menjadi korban untuk menghindari kesalahan. Keduanya perlu dinilai dengan melihat peristiwa secara jujur.
Karena itu, saat konflik muncul, langkah awal yang diajarkan ialah memeriksa tindakan sendiri dan tidak buru-buru menuduh. Dua ciri yang diuraikan—menolak mengakui kesalahan dan mudah merasa disakiti—dapat mengganggu hubungan ketika berulang tanpa introspeksi.









































📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.