Senin, 9 November 2026 WIB
DAERAH

SUBEC Surabaya: 380 Pendaftar, 50 Usaha Terpilih Dibina

SUBEC Surabaya menjadi ruang pamer karya pelaku usaha kreatif muda
Pelaku usaha dan komunitas kreatif menampilkan karya dalam kegiatan di SUBEC Surabaya. (Ilustrasi: AI)

SURABAYA — Surabaya Urban Creative Hub (SUBEC) mencatat lebih dari 380 pendaftar dalam Surabaya Startup Festival 3.0 di Surabaya, Sabtu (7/11), jauh di atas target awal 150 peserta. Setelah kurasi, 50 pelaku usaha terpilih untuk mengikuti pembinaan bisnis.

Angka pendaftar menunjukkan minat terhadap ruang pengembangan usaha kreatif. Namun, ukuran keberhasilan SUBEC tidak berhenti pada ramainya pendaftaran atau kegiatan festival. Yang lebih menentukan ialah apakah peserta dapat mengembangkan keterampilan, memperluas jaringan, dan memperoleh peluang usaha setelah pembinaan selesai.

SUBEC Surabaya perlu melampaui ruang festival

Gedung yang kini digunakan SUBEC sebelumnya dikenal sebagai eks Hi-Tech Mall di kawasan Taman Hiburan Rakyat. Warga pernah mendatanginya untuk mencari komputer dan perangkat elektronik, sebelum perubahan pola belanja dan perdagangan digital menggeser peran pusat perdagangan itu.

Pemerintah Kota Surabaya meluncurkan SUBEC pada 5 Juli 2026 sebagai ruang kolaborasi anak muda. Kegiatannya dirancang mencakup seni, budaya, kuliner, komunitas otomotif, teknologi, dan olahraga elektronik. Kawasan ini juga disiapkan sebagai tempat bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperkenalkan produk kepada konsumen.

Creative Community Days 2026 pada Sabtu (7/11) memperlihatkan salah satu cara pemanfaatannya. Komunitas dan pelaku usaha kreatif mendapat panggung untuk menunjukkan karya. Tetapi kegiatan berkala dibutuhkan agar fungsi SUBEC tidak bergantung pada satu festival.

Ruang yang mempertemukan bidang berbeda dapat membuka peluang kolaborasi. Seniman, misalnya, bisa bertemu desainer; pengembang teknologi dapat bertukar gagasan dengan pelaku UMKM. Komunitas otomotif pun dapat membawa kreativitasnya ke ruang yang sama. Pertemuan seperti ini memberi anak muda tempat untuk mencoba gagasan, belajar, dan membangun jejaring.

Minat peserta perlu berlanjut menjadi kemampuan

Data ekonomi kreatif memberi gambaran mengapa ruang pengembangan seperti SUBEC relevan. Data BPS 2025 yang dipublikasikan Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat tenaga kerja ekonomi kreatif mencapai 27,4 juta orang. Sebanyak 63 persen di antaranya berasal dari generasi Z dan milenial.

Pada 2025, subsektor kuliner, fesyen, dan kriya menyumbang 66,53 persen terhadap PDB ekonomi kreatif. Angka-angka itu memperlihatkan besarnya peran bidang kreatif, sekaligus menegaskan bahwa kebutuhan anak muda tidak seragam. Ilustrator, pembuat gim, musisi, perancang busana, dan pengusaha kuliner membutuhkan bentuk dukungan yang berbeda.

Dampaknya terasa bagi peserta ketika kesempatan belajar tidak berhenti pada acara. Pembinaan yang berkelanjutan dapat membantu pelaku usaha menguji produk, memperbaiki mutu, menentukan harga, memasarkan barang, dan melindungi kekayaan intelektual. Bagi komunitas yang tidak mengejar bisnis, akses ruang, pelatihan, dan pertemuan lintas bidang juga memberi manfaat sosial dan keterampilan.

SSF 3.0 sudah memasukkan lokakarya penjualan dan pencitraan merek, penguatan bisnis, serta konsultasi dengan praktisi dan ahli hukum. Peserta juga mempelajari kebutuhan pelanggan, pembagian kerja, dan pengelolaan arus kas. Tahap berikutnya adalah menjaga pendampingan agar materi itu bisa diterapkan setelah festival berakhir.

Program rutin dan akses terbuka jadi pekerjaan berikutnya

SUBEC membutuhkan kalender kegiatan sepanjang tahun, mulai dari pameran dan lokakarya hingga pertunjukan, kompetisi, serta kelas keterampilan. Pengelola juga perlu mengatur pemakaian ruang, jadwal kegiatan, standar layanan, dan biaya pemeliharaan secara transparan.

Kerja sama dengan komunitas dan swasta dapat mendukung operasional, selama fungsi publiknya tetap terjaga dan kreator pemula tidak tersisih.

Keberhasilan juga perlu dinilai dari hasil yang beragam. Usaha yang bertahan, transaksi, omzet, dan lapangan kerja dapat menunjukkan dampak ekonomi. Jumlah komunitas aktif, peserta pelatihan, kolaborasi, serta keterampilan baru membantu melihat manfaat sosialnya. Evaluasi berkala memberi dasar untuk memperbaiki program dan mempertanggungjawabkan penggunaan fasilitas publik.

Akses yang setara menjadi bagian penting dari penilaian itu. Perhatian Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi terhadap keterlibatan penyandang disabilitas, termasuk pemberian stan untuk memamerkan karya, menjadi langkah awal. Kesempatan tidak cukup hadir sesekali di ruang pamer; fasilitas, pelatihan, pendampingan, dan akses pasar juga perlu tersedia secara berkelanjutan.

Desain universal, yakni rancangan fasilitas yang dapat digunakan beragam orang, perlu diterapkan pada jalur mobilitas, akses antarlantai, toilet, dan papan informasi. Pelatihan pun perlu dapat diikuti secara setara. Langkah SUBEC berikutnya akan terlihat dari seberapa konsisten ruang itu membuka akses dan meneruskan pembinaan di luar festival.

(ZA)

Artikel Untuk Anda

📲
Ikuti JournalArta di WhatsApp & Telegram

Berita terpenting nasional, ekonomi, dan teknologi langsung di HP-mu. Gratis, tanpa spam.

Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Uji dirimuKuis Sejarah Hari Pahlawan: 10 Soal Pertempuran Surabaya 1945, Berapa Skormu? →