ISTANBUL — Turki dan Azerbaijan menegaskan hubungan erat mereka pada Minggu setelah spekulasi keretakan menguat, menyusul perbedaan soal larangan jilbab di sekolah dan kedekatan Baku dengan Israel.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menyampaikan penegasan itu dalam konferensi pers bersama di Shusha. Pernyataan tersebut muncul setelah Aliyev absen dari pertemuan puncak negara-negara Turkik yang digelar Turki pada 30 Oktober.
Ketegangan ini penting karena kedua negara selama ini menyebut hubungan mereka sebagai “satu bangsa, dua negara”. Isu yang bermula dari kritik terhadap kebijakan pendidikan Azerbaijan kini memicu perhatian terhadap kekuatan aliansi politik mereka.
Turki-Azerbaijan di tengah kritik soal jilbab
Perdebatan mencuat setelah Azerbaijan pada September melarang siswi dan guru mengenakan penutup kepala Islam di sekolah. Sejumlah pengguna media sosial di Turki dan anggota partai berkuasa yang berorientasi Islam mengkritik keputusan tersebut.
Kritik itu memicu kemarahan di Azerbaijan, negara kaya energi, yang menilai komentar dari Turki sebagai campur tangan. Pemerintah Turki sendiri tidak mengeluarkan pernyataan resmi mengenai larangan jilbab tersebut.
Perbedaan sikap itu terasa sensitif di Turki. Pemerintahan Erdogan membatalkan larangan serupa di negaranya setelah berkuasa pada 2003. Namun, kebijakan dalam negeri Turki tidak mengubah keputusan Azerbaijan, dan silang pendapat tersebut ikut memunculkan dugaan hubungan kedua negara memburuk.
Dampaknya terlihat pada hubungan diplomatik yang menjadi perhatian di kawasan. Ketidakhadiran Aliyev dalam pertemuan puncak negara-negara Turkik di Turki memperbesar spekulasi, sementara ia mengirim menteri luar negerinya sebagai pengganti. Bagi kedua negara, menjaga kedekatan berarti meredam kesan bahwa perbedaan kebijakan telah berubah menjadi keretakan aliansi.
Aliyev absen dari pertemuan puncak
Erdogan sebelumnya menelepon Aliyev untuk mengundangnya ke pertemuan itu. Dalam upaya meredakan ketegangan, Erdogan juga memecat ajudannya, Oktay Saral, yang mengkritik larangan jilbab di media sosial.
Sejumlah laporan media menyebut pemecatan Saral dilakukan setelah Aliyev meminta tindakan tersebut. Meski begitu, Aliyev tetap tidak hadir dalam pertemuan pada 30 Oktober. Keputusan itu kemudian menambah perhatian terhadap hubungan Ankara dan Baku.
Erdogan dan Aliyev akhirnya tampil bersama di Shusha, tempat Erdogan datang untuk perayaan Hari Kemenangan Azerbaijan. Perayaan itu menandai tahun keenam kemenangan Azerbaijan atas Armenia di Nagorno-Karabakh.
Dalam konferensi pers, Erdogan menekankan bahwa hubungan kedua negara tidak hanya bertumpu pada bahasa, sejarah, dan kebudayaan yang sama. Ia menyebut kedekatan mereka sebagai persaudaraan yang lebih luas.
“Persaudaraan kami melampaui kesamaan bahasa, sejarah, dan budaya,” kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Erdogan juga menggambarkan kebersamaan kedua negara sebagai ikatan yang berakar pada masa lalu dan menjadi arah bagi masa depan. Ia berkata, “Kegembiraan Baku adalah kegembiraan Ankara dan kebanggaan Shusha adalah kebanggaan seluruh bangsa kami.”
Presiden Turki itu menyebut hubungan Ankara dan Baku telah melewati banyak ujian sepanjang sejarah. “Persatuan hati yang kami gambarkan dengan semboyan ‘Satu bangsa, dua negara’ adalah mercusuar abadi, yang memperoleh kekuatan dari masa lalu bersama dan menerangi jalan menuju masa depan kami,” ujar Erdogan.











































📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.