Abu Yasir memaparkan bahwa ia terpaksa harus turun gunung mengajak masyarakat Indonesia untuk mewaspadai gerakan NII yang saat ini sudah dianggap sangat serius mengancam NKRI yang jumlahnya saat ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Padahal begitu banyak instrument pemerintah yang terlibat dalam masalah ini seperti BNPT, DENSUS 88, BIN, BAIS, Kejaksaan dan lain-lain, tapi sepertinya tidak punya dampak apa-apa terhadap perkembangan NII.
” Tahun 2020 saja sudah lebih dari 5 juta personil, hari ini bisa dua kali lipat nya. Bisa 7 juta sampai dengan 10 juta yang tersebar luas di berbagai lini mulai Kyai, Ulama, Habaib, Kalangan Akademisi Kampus, ASN, Pengusaha, Ormas Islam bahkan ada juga masuk ke partai-partai, serta TNI dan POLRI karena mereka punya agenda besar tahun di 2024 mendatang ini dan mereka menggalang kekuatan Bersama kaum radikalisme baik dalam negeri maupun luar negeri. Tujuan gerakan NII bersama kaum radikalis itu sangat jelas yakni ingin merebut kekuasaan menghancurkan keutuhan NKRI dengan menjual dogma-dogma Agama,” paparnya.
” Dan waktu yang sudah mereka agendakan adalah tahun 2024 bersamaan dengan agenda Pilpres, hal inilah yang patut kita waspadai dan harus kita antisipasi sejak dini. Jangan sampai negara kita dijadikan seperti Suriah, Yaman, Afganistan dan negara lainnya yang hancur berkeping keeping,” timpalnya.
Sementara itu, Abah Anton panggilan akrab Anton Charliyan mengungkapkan bahwa kita harus bergerak bersama-sama menumpas sisa-sisa NII dan antek-anteknya yang kini jumlahnya sangat banyak dan tersebar hampir di semua lini. Dari data yang disampaikan oleh Abu Yasir kini anggota NII yang tersebar di seluruh Indonesia sd tahun 2020, sudah mencapai 10 juta orang.
” Saya sangat prihatin dengan kondisi ini, terlebih lagi dari laporan intelejen bahwa tahun 2024 sudah ada agenda internasional dimana agenda tersebut bertujuan untuk membuat NKRI rusuh, merebut kekuasaan dan merebut simpati massa melalui dogma-dogma agama, menjadikan NKRI seperti negara-negara yang sudah berhasil mereka jadikan target seperti Suriah, Irak, Yaman, Libya, Irak , Palestina dan lain-lain,” ungkapnya.
