2. Kosongnya Angka Satu
Kata “Suro” juga diartikan sebagai suci, bersih, atau kosong. Angka satu melambangkan awal yang murni. Filosofinya: mulailah tahun baru dengan hati yang bersih dari dendam, iri hati, dan kesalahan masa lalu, seolah memulai lembaran baru yang putih bersih.
3. Kesederhanaan dan Ketenangan
Berbeda dengan perayaan pergantian tahun lainnya yang identik dengan keramaian, tradisi Satu Suro justru mengajarkan ketenangan batin. Ini melambangkan bahwa ketenangan pikiran adalah modal utama untuk meraih kebaikan di masa depan.
4. Kesatuan dalam Perbedaan
Tradisi ini menjadi bukti akulturasi budaya: nilai agama Islam menyatu dengan kearifan lokal, mengajarkan toleransi dan keharmonisan hidup berdampingan.
Tradisi Umum yang Masih Dilestarikan
Berbagai tradisi dilakukan sebagai wujud penghayatan makna Satu Suro:
1. Tirakatan
Kegiatan yang paling utama: duduk bersila, merenung, berdoa, dan memperbanyak ibadah sepanjang malam. Tujuannya adalah memohon ampunan atas kesalahan dan memohon petunjuk kebaikan di tahun yang akan datang.
2. Ziarah Makam
Banyak masyarakat berziarah ke makam leluhur atau tokoh agama, bukan untuk memohon keajaiban, melainkan untuk mendoakan mereka sekaligus mengenang jasa dan teladan yang ditinggalkan.
3. Membersihkan Hati dan Lingkungan
Secara simbolis, masyarakat membersihkan rumah, peralatan, atau benda pusaka. Hal ini melambangkan keinginan untuk membersihkan hati dari hal-hal yang tidak baik.
4. Selamatan dan Sedekah
Mengadakan syukuran sederhana dengan mengundang tetangga, dilengkapi doa bersama dan berbagi rezeki kepada sesama sebagai wujud rasa syukur.
Hal yang Perlu Dipahami
Penting untuk membedakan nilai hakiki dengan mitos yang berkembang:
1. Mitos Keliru: Satu Suro dikaitkan dengan hal gaib, takhayul, atau larangan keras tanpa dasar agama.
2. Makna Sebenarnya: Satu Suro adalah ajakan introspeksi diri, perbaikan akhlak, dan peningkatan ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai utamanya selaras dengan ajaran Islam yang mengajarkan untuk selalu memperbaiki diri setiap saat.
Sumber:
1.Sejarah Kerajaan Mataram Islam oleh Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo
2. Kajian Budaya Jawa oleh Dr. Suwarno, M.Hum. (Ahli Budaya UGM)
3. Lembaga Kajian Islam dan Budaya Yogyakarta
4. Panduan Resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang Makna 1 Muharam/Satu Suro
5. Liputan terverifikasi: Kompas Budaya, ANTARA News, Tirto.ID
6. Diperbarui: 14 Juni 2026 pukul 23.40 WIB

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.