Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Pemerintah: Efisiensi MBG Bisa Hemat APBN Rp 1 Triliun per Bulan

Ilustrasi penghematan APBN Rp 1 triliun MBG dengan grafik peningkatan efisiensi anggaran pemerintah
Pemerintah klaim efisiensi MBG bisa hemat APBN Rp 1 triliun per bulan. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Pemerintah menargetkan penghematan hingga Rp 1 triliun per bulan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui penyesuaian efisiensi operasional. Optimasi ini direncanakan tanpa mengurangi porsi nutrisi siswa, melainkan dengan mengkaji ulang mekanisme logistik, harga, dan distribusi di lapangan.

Klaim penghematan besar-besaran itu lahir dari evaluasi menyeluruh terhadap program yang sempat menjadi pusat kontroversi. Beredarnya laporan dugaan korupsi dalam pelaksanaan MBG memicu Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjanjikan perbaikan komprehensif—mulai dari transparansi hingga mekanisme pengawasan yang lebih ketat. Fokus utama: membedakan antara desain program yang legitimate dengan penyimpangan di tingkat lapangan.

Evaluasi Komprehensif Saat Libur Sekolah

Pemerintah memanfaatkan masa libur sekolah untuk mengkaji setiap lapis pelaksanaan MBG. Dari penetapan harga bahan baku hingga margin biaya di tingkat distributor, semua ditelaah untuk menemukan ruang penghematan tanpa mengorbankan kualitas nutrisi anak.

“Yang salah itu korupsinya, bukan programnya,” ujar Fadli Zon, anggota DPR, dalam merespons kritik yang menuai simpati lintas fraksi. Pernyataan itu menjadi semacam posisi defensif pemerintah: program MBG secara konsep solid, tetapi implementasinya perlu dibenahi.

Juru bicara pemerintah menegaskan bahwa penghematan sebesar Rp 1 triliun per bulan akan dialokasikan kembali ke sektor pendidikan dan kesehatan. Angka ini realistis dicapai dengan mengoptimalkan logistik pengadaan bahan baku dan mengurangi markup di rantai distribusi. Praktik mark-up berlebihan di tingkat distributor hingga agen lokal diyakini menjadi salah satu pemicu inefisiensi terbesar.

Langkah konkret yang sedang dirancang mencakup peningkatan mekanisme transparansi, audit berkala, dan pemberdayaan pengawas lokal di tingkat sekolah. Wapres Gibran berkomitmen menindak tegas setiap indikasi penyelewengan dana.

Penyempitan Skop: Fokus pada Sekolah Rakyat

Dalam evaluasi tersebut, muncul usulan signifikan untuk membatasi cakupan MBG hanya kepada siswa di sekolah rakyat—kategori yang didefinisikan sebagai sekolah dengan standar fasilitas dan sumber daya terbatas. Langkah ini bertujuan membuat bantuan lebih tertarget dan efisien secara finansial.

Dengan penyempitan skop penerima manfaat, pemerintah berharap meningkatkan kualitas layanan sambil menurunkan beban anggaran secara dramatis. Dana yang dialokasikan dapat mencapai sasaran dengan lebih optimal. Proposal ini masih dalam tahap diskusi dengan Kementerian Pendidikan, Kementerian Kesehatan, dan perwakilan daerah—belum final.

Halaman:12Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda