Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
KEBIJAKAN

Sambil Elus Kucing, Gibran Bicara Pemanfaatan AI Harus Dibarengi Etika

Gibran berbincang dengan pelajar dan guru tentang etika pemanfaatan AI di ruang kelas
Gibran menekankan pemanfaatan AI harus dibarengi etika kuat. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menekankan pentingnya etika dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), menyerukan keseimbangan antara penguasaan teknologi dan nilai-nilai moral kepada para pendidik dan pelajar. Pesan ini disampaikan saat Gibran berdialog santai dengan komunitas pendidikan, menegaskan bahwa kemampuan teknis tanpa fondasi etika akan menghasilkan inovasi yang tidak bertanggung jawab.

“Teknologi itu alat. Yang penting adalah bagaimana kita menggunakannya,” ujar Gibran dalam pertemuan tersebut. Dia mengingatkan bahwa setiap pengembangan AI harus mempertimbangkan dampak sosialnya secara menyeluruh, dari privasi data hingga keadilan dalam algoritma.

Poin ini relevan di tengah akselerasi adopsi AI di Indonesia. Saat ini, lembaga keuangan, platform e-commerce, dan layanan kesehatan digital sudah mengintegrasikan sistem berbasis AI dalam operasional mereka. Tanpa pedoman etika yang jelas, risiko terjadinya diskriminasi algoritma, pembocoran data pribadi, atau amplifikasi bias sistemik semakin besar.

Guru sebagai Gatekeeper Nilai di Era Digital

Dalam dialog tersebut, Gibran memberikan perhatian khusus kepada para guru, meminta mereka tidak menyerah dalam meningkatkan kompetensi menghadapi transformasi digital. Dia mengakui tantangan nyata yang dihadapi pendidik: beban kurikulum yang padat, akses teknologi terbatas di daerah, dan kekhawatiran AI akan menggantikan peran mereka.

Namun Gibran memposisikan guru bukan sebagai pesaing AI, melainkan sebagai “gatekeeper”—penjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengat gelombang otomasi. “Kalian yang mengajarkan tidak hanya teknologi, tapi juga moralitas,” katanya kepada para pendidik.

Pesan ini sejalan dengan data dari UNESCO (2023) yang menunjukkan bahwa 60% guru di negara berkembang merasa kurang siap menghadapi integrasi AI dalam pembelajaran. Namun studi yang sama juga menemukan bahwa guru yang menjalani pelatihan etika AI menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan membimbing siswa untuk berpikir kritis terhadap teknologi.

Fokus pemerintah Indonesia untuk meningkatkan literasi digital di kalangan generasi muda tidak bisa dipisahkan dari peran guru. Mereka menjadi jembatan antara kurikulum nasional dan pemahaman praktis tentang bagaimana AI bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa mentor yang paham etika teknologi, pelajar berisiko hanya menjadi konsumen pasif daripada pembuat keputusan yang bertanggung jawab.

Halaman:1234Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda