Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Open Source Bukan Sekadar Hobi, Perusahaan Wajib Beri Dukungan Dana

Open Source Bukan Sekadar Hobi, Perusahaan Wajib Beri Dukungan Dana
Perangkat lunak open source kini menopang 70% ekonomi digital. Foto: Wikimedia Commons

JAKARTA — Selama puluhan tahun, perangkat lunak sumber terbuka atau open source software (OSS) kerap dianggap sebagai pelengkap gratis dalam tumpukan teknologi perusahaan. Padahal, sekitar 70 persen fondasi perangkat lunak modern yang kita gunakan saat ini dibangun di atas komponen-komponen tersebut. Kini, para pengembang dan perusahaan teknologi mulai menyuarakan kegelisahan: sudah saatnya OSS diperlakukan sebagai infrastruktur krusial, bukan sekadar proyek hobi yang bisa diabaikan.

Ketergantungan ini bukan sekadar tren, melainkan kenyataan yang menghidupi hampir seluruh aktivitas manusia modern. Mulai dari aplikasi perbankan yang Anda buka di ponsel, infrastruktur *cloud* tempat data perusahaan disimpan, hingga algoritma belanja daring, semuanya berjalan di atas kode yang disusun oleh komunitas sukarelawan di seluruh dunia. Ketika komponen kecil di dalamnya goyah, dampaknya bisa melumpuhkan layanan di berbagai negara dalam sekejap.

Bahaya ‘Ledakan’ di Balik Layar

Banyak perusahaan menghabiskan miliaran rupiah untuk keamanan siber dan ketahanan sistem, namun sering kali lalai memeriksa fondasi dasar perangkat lunak mereka. Analogi yang sering dipakai adalah pipa air di dalam dinding rumah. Kita tidak pernah memikirkannya sampai tiba-tiba pipa tersebut pecah dan menyebabkan banjir besar. Inilah risiko yang dihadapi industri saat ini; sistem ekonomi global senilai 8,8 triliun dolar AS bergantung pada pustaka kode yang sering kali hanya dikelola oleh satu atau dua orang sukarelawan.

Bahayanya sangat nyata. Bayangkan sebuah perpustakaan kode kecil yang diunduh jutaan kali setiap hari oleh raksasa teknologi. Jika pengembang aslinya mengalami *burnout*, berpindah pekerjaan, atau kehilangan minat, proyek tersebut akan terbengkalai. Saat peretas menemukan celah di sana, tidak ada lagi pihak yang sigap memperbaikinya. Kekosongan kepemimpinan dalam proyek digital inilah yang menjadi bom waktu bagi keamanan siber global.

Richard Forss, CTO EXANTE, menjelaskan bahwa ketergantungan ini menjadi titik kegagalan tunggal yang bersembunyi di depan mata. “Kita melakukan analisis risiko vendor dan simulasi serangan siber dengan sangat ketat, namun seluruh bangunan itu bisa runtuh jika pustaka yang menopangnya tidak lagi diperbarui oleh pengembangnya yang kelelahan,” ujarnya kepada TechRadar Pro.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda