Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Era Kegemilangan Saham SpaceX Usai, Nilainya Hilang Rp10.696 T

Grafik saham SpaceX turun tajam setelah rencana obligasi investasi
Saham SpaceX merosot 23% dalam tiga hari setelah rencana obligasi investasi untuk mendanai ambisi AI, menurut Bloomberg. (Ilustrasi: AI)

NEW YORK — saham SpaceX merosot tajam selama tiga hari beruntun setelah perusahaan milik Elon Musk itu mengumumkan rencana penerbitan obligasi tipe investasi untuk pertama kalinya. Menurut Bloomberg, tekanan jual membuat nilai pasar SpaceX hilang lebih dari US$600 miliar atau sekitar Rp10.696 triliun dalam periode singkat itu.

Pada Senin waktu setempat, saham SpaceX jatuh 16 persen dan ditutup di US$154,60 per saham. Itu menjadi level terendah sejak hari pertama perdagangan, sekaligus memperpanjang pelemahan sejak puncak euforia awal. Kini kapitalisasi pasarnya berada sedikit di atas US$2 triliun, atau sekitar Rp35.656 triliun.

Angka itu terdengar masih raksasa. Tapi arah pergerakannya jelas.

Rencana obligasi investasi yang disiapkan SpaceX memicu pertanyaan baru dari pasar: seberapa besar kebutuhan dana perusahaan untuk menopang ambisi kecerdasan buatan, dan seberapa nyaman investor melihat perusahaan teknologi antariksa masuk ke jalur pembiayaan yang lebih agresif. Di pasar saham, sinyal seperti ini sering dibaca sebagai ujian. Bukan sekadar soal ekspansi, melainkan juga soal disiplin modal.

Saham SpaceX dan efek IPO berfloat rendah

Volatilitas saham SpaceX sebenarnya sudah muncul sejak beberapa hari pertama setelah penawaran umum perdana senilai US$75 miliar yang memecahkan rekor. Bloomberg menyebut, salah satu penyebabnya adalah porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan pada hari pertama sangat kecil, hanya 4,2 persen dari total saham beredar. Kondisi seperti ini membuat harga mudah bergerak liar ketika minat beli dan jual tidak seimbang.

Minat investor ritel ikut menyulut lonjakan awal. Banyak pembeli masuk di harga tinggi karena melihat SpaceX sebagai cerita pertumbuhan jangka panjang yang sulit ditolak: roket, satelit, konektivitas, lalu AI. Kombinasi itu terdengar meyakinkan. Sampai pasar mulai menghitung ulang risikonya.

Michael O’Rourke, kepala strategi pasar di JonesTrading, menilai tekanan jual kini kembali menguasai perdagangan. “Para penjual kembali menguasai pasar. Siapa pun di dunia yang ingin membeli saham ini sudah membelinya,” katanya, seperti dikutip Bloomberg. Ucapan itu mempertegas satu hal: ketika supply saham yang diperdagangkan tipis, perubahan sentimen bisa langsung menghantam harga.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda