“Mereka datang untuk makan arepa dan berfoto supaya terlihat seperti bekerja,” kata Yeison Marcano, warga yang sudah tiga hari mencari korban. “Seragam mereka bahkan tak kotor seperti kami.”
Pemerintah juga membatasi akses ke La Guaira dan mewajibkan relawan punya izin masuk. Kebijakan ini memicu antrean panjang di Caracas, termasuk di luar sebuah aula konser tempat warga menunggu izin untuk ikut menolong.
“Anda butuh izin untuk menyelamatkan nyawa — bayangkan saja,” kata Carlos Itriago, 27 tahun. Ezequiel Rivero, 53 tahun, menambahkan bahwa ia sudah menunggu sejak subuh untuk bisa masuk ke zona terdampak.
Bantuan asing berdatangan, tapi kebutuhan masih jauh lebih besar
Di tengah kritik terhadap respons domestik, bantuan internasional mulai masuk. Sebanyak 21 negara mengirim tim pencarian dan penyelamatan. Amerika Serikat mengerahkan lebih dari 250 personel, termasuk tiga unit khusus pencarian dengan anjing pelacak untuk menemukan korban di bawah reruntuhan.
Bandara Internasional Simón Bolívar, yang melayani Caracas, juga mengalami kerusakan berat. Satu landasan pacu masih bisa dipakai, tapi itu jauh dari cukup untuk menopang kebutuhan logistik di lapangan.
Kepala urusan kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, mengatakan lebih dari 50.000 orang masih hilang. Badan migrasi PBB memperkirakan hingga 6,76 juta orang bisa terdampak. PBB juga menaksir kerusakan fisik mencapai 6,7 miliar dolar AS, setara sekitar 6 persen produk domestik bruto Venezuela.
Angka itu memberi gambaran betapa luasnya dampak gempa ini. Bukan hanya korban jiwa. Bukan hanya rumah roboh. Tapi juga ekonomi, mobilitas, dan layanan darurat yang ikut terhuyung.
Harapan kecil di antara puing
Di tengah suasana muram, masih ada secuil kabar baik. Pada Jumat, warga berhasil menarik seorang bayi hidup-hidup dari reruntuhan, sekitar 32 jam setelah guncangan. Momen itu sempat memberi harapan bahwa tidak semua yang tertimbun sudah terlambat ditolong.
Namun bagi banyak keluarga, harapan itu datang terlambat. Barbara Palacios, misalnya, sempat mendengar suara suaminya dari bawah puing dan berteriak memanggilnya. Ia menolak pergi selama proses pencarian berlangsung.
“Saya tidak akan pergi sebelum mereka mengeluarkan suami saya,” katanya. Ketika tim akhirnya berhasil mengevakuasi korban, sang suami ternyata sudah tidak bernyawa.
Di banyak sudut Venezuela, warga kini saling mengandalkan. Seorang musisi, Zaira Castro, menegaskan bahwa orang-orang biasa lah yang saling membantu saat negara dianggap tak hadir. “Kami hidup dalam masyarakat yang sudah terbiasa saling menolong,” ujarnya kepada AFP. “Kami tidak bergantung pada pemerintah — pemerintah itu sudah tidak ada bagi kami.”
Kisah itu merangkum suasana di lapangan: marah, lelah, dan putus asa. Tapi juga keras kepala. Warga terus menggali, memanggil nama keluarga, dan menunggu kabar di tengah bau tanah basah serta reruntuhan yang belum juga diam.
“Kami masih mencari,” kata seorang relawan di lokasi. “Selama masih ada kemungkinan, kami tidak akan berhenti.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.