Senin, 29 Juni 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Gagal bawa timnas Korea Selatan ke 32 besar, Hong Myung-bo mundur

Pelatih kepala Hong Myung-bo resmi mengundurkan diri setelah gagal bawa timnas Korea Selatan ke 32 besar.
Hong Myung-bo mundur dari kursi pelatih setelah Korea Selatan tersingkir dramatis di fase grup Piala Dunia 2026. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Publik sepak bola Asia dikejutkan oleh keputusan drastis di kursi kepelatihan Taeguk Warriors. Akibat gagal bawa timnas Korea Selatan ke 32 besar, Hong Myung-bo mundur dari jabatannya sebagai pelatih kepala pada Minggu (28/6). Langkah mundur ini diambil sang juru taktik hanya berselang 24 jam setelah Son Heung-min dan kolega dipastikan angkat koper lebih cepat akibat kegagalan bersaing di fase grup.

Pertanggungjawaban instan. Hong Myung-bo memilih menyudahi masa baktinya tanpa mencari pembenaran atas rapuhnya performa taktis tim sepanjang turnamen. Ekspektasi tinggi publik Seoul runtuh seketika setelah kampanye tim nasional mereka berjalan antiklimaks sejak laga pembuka penyisihan grup.

“Pertama-tama, saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang tulus kepada para penggemar dan pendukung sepak bola Korea Selatan. Hari ini saya mengundurkan diri dari tim nasional sepakbola,” kata Hong Myung-bo seperti dilansir dari Kantor Berita Yonhap.

Keputusan ini melegakan sebagian pihak yang menuntut adanya revolusi di tubuh tim nasional, namun sekaligus meninggalkan lubang besar di sektor manajerial menjelang agenda internasional berikutnya.

Dejavu Buruk Edisi 2014 dan Rentetan Hasil Minor

Bagi Hong Myung-bo, kegagalan kali ini terasa seperti dejavu yang sangat menyakitkan. Mantan bek legendaris dan kapten Korea Selatan di Piala Dunia 2002 tersebut seolah mengulangi memori buruk yang pernah dia rasakan pada Piala Dunia 2014 di Brasil. Kala itu, dia juga terpaksa meletakkan jabatan setelah Korea Selatan tersingkir di fase grup dengan catatan tanpa satu pun kemenangan.

Ironisnya, skuad kali ini sebenarnya memiliki materi pemain yang jauh lebih mentereng di atas kertas. Namun, statistik di lapangan berbicara lain. Sepanjang turnamen, Korea Selatan hanya mampu mengemas satu kemenangan tipis saat menumbangkan Republik Ceko dengan skor 2-1. Tiga poin krusial dari laga tersebut rupanya tidak cukup menyelamatkan wajah tim di klasemen akhir grup.

Nasib Taeguk Warriors sempat menggantung dan sangat bergantung pada kalkulasi rumit peringkat ketiga terbaik dari grup lain. Sial bagi mereka, keajaiban matematika tidak memihak skuad asuhan Hong Myung-bo. Kombinasi hasil pertandingan di grup lain resmi menutup rapat pintu babak gugur bagi raksasa Asia ini. Kegagalan ini memicu gelombang kritik tajam dari media-media olahraga domestik di Korea Selatan.

Masalah Transisi dan Skema Taktik yang Usang

Mengapa tim bertabur bintang Eropa ini tampil begitu tumpul? Para analis taktis sepak bola menunjuk hidung skema permainan Hong Myung-bo yang dinilai terlampau ortodoks. Pendekatan 4-2-3-1 andalannya sangat mudah dibaca oleh lawan. Skuad Taeguk Warriors kerap frustrasi dan kehabisan ide kreatif saat berhadapan dengan lawan yang menerapkan pertahanan super rapat atau low block.

Titik lemah paling fatal terletak pada transisi permainan, terutama dari menyerang ke bertahan. Jarak antarlini yang terlalu renggang membuat lini tengah yang dikoordinasi para gelandang bertahan mudah ditembus lewat satu-dua sentuhan cepat. Mayoritas gol yang bersarang ke gawang Korea Selatan lahir dari skema serangan balik cepat akibat lambatnya recovery posisi para pemain bertahan.

Statistik Tim Penyisihan Grup
Kemenangan 1 Laga
Kebobolan 5 Gol
Penguasaan Bola (Rata-rata) 58%
Akurasi Tembakan 34%

Hong Myung-bo juga dinilai kurang berani dalam melakukan rotasi dan memaksimalkan potensi pemain muda potensial dari K-League. Dia cenderung bertumpu pada nama-nama mapan yang merumput di Eropa, meski kondisi fisik mereka tampak kelelahan pasca-musim kompetisi yang padat. Keputusan pergantian pemain dari bangku cadangan juga sering terlambat, membuat alur serangan Korea Selatan sangat monoton pada paruh kedua pertandingan.

Tugas Berat KFA Mencari Suksesor Baru

Mundurnya Hong Myung-bo memaksa Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) untuk segera berbenah dan bergerak cepat di bursa transfer pelatih. Agenda kualifikasi penting sudah menanti di depan mata, dan membiarkan kursi pelatih kosong terlalu lama akan sangat berisiko bagi stabilitas tim nasional.

KFA kini dituntut melakukan evaluasi menyeluruh, bukan sekadar mengganti figur di pinggir lapangan. Pemilihan pelatih baru berikutnya harus selaras dengan visi bermain modern yang mengandalkan kecepatan, fleksibilitas taktik, dan transisi instan. Publik sepak bola Korea Selatan kini menunggu keputusan krusial dari federasi demi mengembalikan kejayaan Taeguk Warriors di panggung internasional.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda