Jumat, 10 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Kemiskinan lansia Hong Kong Meningkat, Usia Pensiun 65 Dipersoal

Kemiskinan lansia Hong Kong dan debat usia pensiun 65
Kemiskinan lansia Hong Kong mengancam membesar. (Ilustrasi: AI)

HONG KONG — kemiskinan lansia Hong Kong kian dikhawatirkan membesar dalam beberapa dekade ke depan, sementara asumsi bahwa warga harus berhenti bekerja pada usia 65 tahun mulai dipersoalkan. Dalam tulisan yang membahas masalah itu, umur panjang penduduk dan tabungan pensiun yang tidak merata disebut membuat skenario hari tua makin rapuh bila kebijakan tetap diam di tempat.

Pertanyaannya sederhana, tapi dampaknya besar: apakah usia 65 masih masuk akal sebagai patokan berhenti bekerja jika harapan hidup warga sudah menembus 85 tahun atau lebih? Jika jawaban jujurnya tidak, maka Hong Kong perlu menata ulang cara memandang pensiun, kerja paruh waktu, dan perlindungan bagi warga lanjut usia yang masih sanggup berkontribusi.

Patokan 65 tahun mulai retak

Gagasan pensiun pada usia 65 memang sudah lama dianggap wajar di banyak tempat. Di Hong Kong, angka itu juga dipakai sebagai acuan dalam sejumlah pembahasan kebijakan. Tapi realitas penduduk berubah lebih cepat daripada aturan yang mengatur mereka.

Semakin panjang umur seseorang, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung setelah berhenti bekerja. Masa pensiun tidak lagi dua atau tiga tahun. Bisa belasan tahun. Bahkan lebih. Dan itu menekan dana pribadi, dana keluarga, serta jaringan bantuan sosial yang tersedia.

Masalahnya jelas.

Jika warga hidup hingga 85 tahun atau lebih, lalu berhenti total bekerja di usia 65, ada jeda 20 tahun yang harus dibiayai tanpa pendapatan aktif. Bagi kelompok berpenghasilan tinggi, situasi itu mungkin masih tertutup oleh tabungan dan aset. Namun bagi pekerja bergaji rendah atau yang baru menabung di usia matang, celah itu amat lebar.

Di sinilah studi dan angka rata-rata sering menipu kalau dibaca mentah. Rata-rata tabungan tidak selalu menggambarkan kondisi mereka yang hampir pensiun. Ada orang yang baru mulai bekerja. Ada yang baru menata hidup. Ada pula yang menanggung keluarga sampai usia lanjut. Maka, gambaran keseluruhannya memang belum tentu seragam, tetapi risikonya tetap nyata.

Kenapa masalah ini tidak bisa ditunda

Tulisan yang menjadi bahan ini menekankan bahwa langkah untuk menekan kemiskinan lansia memang ada, tetapi butuh waktu agar hasilnya terasa. Artinya, kebijakan yang ditunda hari ini akan dibayar mahal beberapa tahun lagi. Bahkan mungkin lebih cepat dari yang diperkirakan.

Di banyak kota besar, biaya hidup tidak turun hanya karena seseorang masuk usia pensiun. Sewa rumah tetap harus dibayar. Makan tetap perlu. Obat bertambah. Transportasi tidak berhenti. Sementara itu, penghasilan dari kerja hilang jika seseorang dipaksa berhenti terlalu dini.

Hong Kong punya persoalan tambahan: kota ini mahal. Ruang tinggal sempit, harga properti tinggi, dan tekanan hidup menempel sejak muda. Bila pensiun datang terlalu cepat, banyak warga lanjut usia akan jatuh ke jurang yang sama, hanya dengan ritme yang lebih lambat.

Bila kebijakan tetap bersandar pada usia 65 sebagai garis mati, pemerintah berisiko menutup mata dari kenyataan baru. Penduduk hidup lebih lama. Mereka juga lebih sehat dibanding generasi sebelumnya. Maka, kebijakan pensiun yang kaku justru tidak efisien. Mengapa tenaga kerja yang masih produktif harus berhenti begitu saja?

Kerja lebih lama, beban sosial bisa ditekan

Opsi yang disorot dalam pembahasan itu bukan sekadar menaikkan batas usia pensiun secara mendadak. Arah yang lebih masuk akal adalah membuka ruang kerja lebih lama bagi warga yang masih mampu, terutama dalam bentuk pekerjaan fleksibel, paruh waktu, atau transisi bertahap menuju pensiun penuh.

Skema seperti itu bisa memberi dua manfaat sekaligus. Pekerja lanjut usia tetap punya pendapatan. Ekonomi kota juga masih mendapat tenaga berpengalaman. Di saat banyak negara menghadapi kekurangan tenaga kerja, menutup pintu pada pekerja yang sehat dan mau bekerja terdengar mubazir.

Hong Kong bukan satu-satunya wilayah yang akan menghadapi tekanan serupa. Banyak kota di Asia Timur, termasuk Jepang dan Korea Selatan, sudah lebih dulu berhadapan dengan penduduk menua cepat. Bedanya, mereka yang bergerak lebih awal punya peluang lebih besar menahan lonjakan kemiskinan di kelompok tua.

Untuk pembaca di Indonesia, pelajaran dari Hong Kong ini juga relevan. Pekerja formal dan informal di sini masih sangat bergantung pada tabungan pribadi, jaminan sosial, dan dukungan keluarga. Kalau usia harapan hidup terus naik sementara kepastian dana pensiun tak ikut membaik, tekanan pada keluarga muda akan ikut membesar. Bebannya pindah, bukan hilang.

Kebijakan pensiun harus ikut umur panjang

Yang paling dibutuhkan sekarang adalah keberanian mengubah asumsi lama. Usia pensiun bukan angka sakral. Ia seharusnya mengikuti data kesehatan, produktivitas, dan kondisi fiskal, bukan sekadar kebiasaan administratif.

Pemerintah Hong Kong, menurut logika yang dibahas dalam tulisan itu, perlu memikirkan ulang tiga hal: usia pensiun yang lebih lentur, insentif bagi pekerja senior untuk tetap aktif, dan jaring pengaman bagi mereka yang memang tidak sanggup bekerja lagi. Tanpa kombinasi itu, kebijakan hanya akan memindahkan masalah dari pasar kerja ke layanan sosial.

Perusahaan juga punya peran. Rekrutmen tidak boleh berhenti di angka kelahiran. Pelatihan ulang, penyesuaian beban kerja, dan skema kerja yang ramah usia bisa menjaga orang tetap produktif lebih lama. Ini bukan romantisasi kerja seumur hidup. Ini soal pilihan yang masuk akal ketika umur hidup berubah.

Kalau kebijakan bergerak lambat, kemiskinan lansia Hong Kong bisa benar-benar menjadi gelombang besar. Dan gelombang itu tidak datang sekali pukul. Ia merayap pelan, lalu menumpuk. Menjelang satu generasi memasuki usia tua, pertanyaannya bukan lagi apakah sistem perlu diubah. Yang tersisa tinggal satu angka yang terus menghantui: 65.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda