MOSKOW — Serangan drone Ukraina kembali menghantam Rusia pada Minggu, 28 Juni 2026, dengan satu kilang minyak besar di wilayah selatan terbakar dan sedikitnya dua orang tewas. Di saat yang sama, Presiden Vladimir Putin mengakui negaranya sedang melewati serangan drone Ukraina yang membuat situasi domestik “sulit”.
Dampaknya terasa langsung. Pasokan bahan bakar di beberapa wilayah Rusia terganggu, pembatasan penjualan bensin mulai muncul sampai Siberia, dan tekanan ke Kremlin makin besar saat perang memasuki tahun kelima.
Putin akui tekanan di dalam negeri
Putin menyampaikan pengakuan itu dalam konferensi Partai Rusia Bersatu. Ia tidak menyebut langsung serangan Ukraina, tetapi menegaskan pemerintah akan tetap memenuhi kewajiban sosial ke warga.
“Kami sedang melewati periode sulit,” kata Putin, seraya menambahkan bahwa Moskow tetap akan membangun perumahan, jalan, dan menciptakan lapangan kerja baru. Ia juga menyebut pemerintah menyesuaikan sejumlah rencana karena situasi saat ini.
Pernyataan itu penting. Soalnya, beberapa bulan terakhir Ukraina memang memperluas serangan jarak jauh ke fasilitas energi dan industri militer Rusia. Tujuannya jelas: memangkas pendapatan Moskow dari minyak dan gas, sekaligus menekan logistik perang.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bahkan menyebut serangan itu sebagai “sanksi jarak jauh”. Dalam unggahan di Telegram, ia mengatakan serangan ke dua kilang minyak di Rusia berarti berkurangnya sumber daya untuk “mesin perang Rusia”.
Kilang minyak Slavyansk terbakar
Menurut otoritas Rusia, puing drone Ukraina yang ditembak jatuh memicu kebakaran di kilang minyak Slavyansk-na-Kubani di Krasnodar, wilayah selatan Rusia, timur Krimea yang diduduki. Gubernur Veniamin Kondratyev mengatakan puing jatuh itu juga menewaskan satu orang di Slavyansk dan melukai satu orang di desa terdekat.
Kilang tersebut bukan fasilitas kecil. Operatornya menyebut lokasi itu memproses hampir 4 juta ton minyak mentah per tahun dan menjadi salah satu pemasok penting produk minyak untuk ekspor lewat pelabuhan Laut Hitam Rusia, termasuk fuel oil, naphtha, dan marine fuel.
Di wilayah Yaroslavl, sekitar 700 kilometer dari perbatasan Ukraina, Zelenskyy juga mengklaim satu kilang lain ikut terkena serangan malam hari. Pemerintah Rusia belum segera mengonfirmasi serangan itu, tetapi gubernur setempat Mikhail Evraev mengatakan sejumlah jalan antara Moskow dan ibu kota regional ditutup sementara karena “serangan musuh oleh drone Ukraina”.
Bandara Yaroslavl juga sempat tutup semalam. Bandara lain di selatan dan barat Rusia ikut terdampak, menurut otoritas penerbangan sipil Rusia. Singkatnya, gangguan menyebar. Tidak lagi lokal.
BBM dibatasi sampai Siberia
Masalah bahan bakar kini tak berhenti di wilayah perbatasan. Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, pada Minggu mengumumkan pembatasan penjualan bahan bakar bagi warga di Siberia. Di stasiun milik negara Rosneft, tiap kendaraan hanya boleh membeli maksimal 50 liter per hari.
Sejumlah jaringan SPBU swasta di Irkutsk dan Tomsk sudah lebih dulu membatasi penjualan sejak awal bulan karena gangguan pasokan. Artinya, tekanan logistik akibat serangan ke fasilitas energi mulai dirasakan konsumen biasa, bukan hanya sektor militer.
Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan pemerintah sedang meninjau ulang kesepakatan ekspor bahan bakar agar kebutuhan domestik tetap aman. Pernyataan ini menandakan prioritas Moskow bergeser ke pasar dalam negeri, setidaknya untuk sementara.
Front perang tetap panas
Di sisi lain, perang di garis depan tetap memakan korban. Di Zaporizhzhia, sebuah bom udara Rusia menewaskan dua orang dan melukai 16 lainnya, termasuk dua anak, menurut kepala administrasi daerah Ivan Fedorov. Di wilayah Belgorod, satu orang tewas dan satu orang luka akibat serangan drone Ukraina, kata gubernur sementara Alexander Shuvayev.
Militer Rusia mengklaim berhasil menjatuhkan 213 drone Ukraina dalam semalam, termasuk di atas Rusia, Krimea yang diduduki, serta Laut Hitam dan Laut Azov. Sementara itu, angkatan udara Ukraina mengatakan Rusia melancarkan 142 drone serang jarak jauh dan delapan rudal, dengan 125 drone dan tujuh rudal berhasil ditembak jatuh.
Angka-angka itu menunjukkan satu hal: perang belum mereda, justru saling tekan di dua arah. Dan kali ini, titik paling rapuh Rusia tampak ada di energi. Satu kilang terbakar, jalur distribusi terganggu, lalu pembatasan bensin menyebar. Itu sinyal yang sulit diabaikan.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.