JAKARTA — DeepSeek ingin menggandakan jumlah karyawan di setiap departemen. Alasannya? Startup kecerdasan buatan asal China itu menyebut umat manusia kini berada di ambang artificial general intelligence — dan mereka tak mau ketinggalan.
Yicai Global melaporkan, DeepSeek yang berbasis di Hangzhou mengumumkan ekspansi rekrutmen besar-besaran ini setelah valuasinya dilaporkan menembus 400 miliar yuan, atau setara sekitar Rp 940 triliun. Angka yang bukan main.
Perusahaan membuka 33 posisi dalam tujuh kategori bidang. Mulai dari pengembangan full-stack dan algoritma, sistem inti AI, operasi dan pemeliharaan, produk, strategi data model, riset deep learning, hingga fungsi korporasi. Lokasi kerja ada di Beijing dan Hangzhou.
Apa Itu AGI dan Kenapa DeepSeek Serius Mengejarnya?
AGI — artificial general intelligence — bukan sekadar AI biasa yang pintar menjawab pertanyaan. Ini adalah kecerdasan buatan yang diklaim mampu menyamai, bahkan melampaui, kemampuan berpikir manusia secara menyeluruh. Bukan cuma satu tugas spesifik, tapi semua tugas.
Bayangkan sistem AI yang bisa belajar bahasa baru, merancang eksperimen ilmiah, menulis kode, lalu menganalisis kebijakan publik — semuanya tanpa diprogram ulang. Itulah mimpi besar AGI. Dan DeepSeek menyatakan dengan tegas: inilah tujuan utama mereka.
Yang membuat DeepSeek berbeda dari pemain AI lain adalah caranya membangun model dengan efisiensi tinggi namun biaya lebih rendah. Model R1 mereka sempat mengguncang Silicon Valley awal 2025 karena klaimnya mampu menyaingi performa GPT-4 dengan biaya pelatihan yang jauh lebih murah. Itu bukan klaim kecil — itu pukulan langsung ke asumsi industri bahwa AI mutakhir butuh dana miliaran dolar.
Pola pikir efisiensi inilah yang tampaknya mendorong keyakinan internal mereka: jika AGI bisa dicapai dengan pendekatan yang lebih ramping, DeepSeek punya peluang nyata untuk sampai lebih dulu.
Kenapa Ekspansi Rekrutmen Ini Penting Dicermati?
Rekrutmen skala besar bukan hal baru di industri teknologi. Tapi konteks DeepSeek berbeda. Startup ini bukan perusahaan mapan dengan ribuan karyawan — mereka masih relatif kecil untuk ukuran perusahaan dengan valuasi hampir Rp 1.000 triliun. Menggandakan jumlah karyawan di setiap departemen berarti lompatan struktural yang signifikan, bukan sekadar tambalan headcount.
Tujuh kategori posisi yang dibuka juga mencerminkan peta strategi yang cukup ambisius. Riset deep learning jelas mengarah ke pengembangan model inti. Strategi data model menunjukkan mereka serius membangun fondasi data yang lebih kuat. Sementara penambahan di sisi operasional dan korporasi memberi sinyal bahwa DeepSeek bersiap untuk skala yang jauh lebih besar — bukan hanya secara teknis, tapi juga sebagai organisasi.
Bagi komunitas riset dan pengembang AI global, ini adalah sinyal bahwa kompetisi menuju AGI kini bergerak lebih cepat. OpenAI, Google DeepMind, dan Anthropic sudah menyatakan AGI sebagai target jangka panjang mereka masing-masing. Kini DeepSeek terang-terangan bergabung dalam perlombaan itu — dengan cara yang lebih terbuka dari sebelumnya.
Apa Artinya bagi Dunia Kerja AI?
Permintaan terhadap talenta AI global memang sudah melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir. Laporan World Economic Forum 2024 menyebut peran yang berkaitan dengan AI dan machine learning masuk dalam daftar pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat hingga 2030. Tapi yang terjadi sekarang berbeda dari gelombang sebelumnya.
Sebelumnya, perusahaan merekrut insinyur AI untuk membangun fitur produk — chatbot layanan pelanggan, sistem rekomendasi, alat analitik. Kini pemain seperti DeepSeek merekrut untuk sesuatu yang lebih fundamental: membangun sistem yang bisa berpikir secara umum. Itu pergeseran besar dalam orientasi riset dan pengembangan.
Bagi talenta Indonesia yang berminat di bidang AI, ini juga relevan. Meski posisi yang dibuka DeepSeek berlokasi di Beijing dan Hangzhou, tren ekspansi rekrutmen besar-besaran dari perusahaan AI China memberi tekanan tersendiri pada ekosistem talenta regional. Perusahaan teknologi di Asia Tenggara — termasuk Indonesia — akan semakin bersaing memperebutkan talenta AI terbaik yang kini punya lebih banyak pilihan, termasuk dari pemain China yang kini bermain agresif.
DeepSeek di Peta Persaingan AI Global
Valuasi 400 miliar yuan menempatkan DeepSeek dalam liga yang tidak main-main. Sebagai perbandingan, angka itu setara dengan lebih dari separuh kapitalisasi pasar beberapa bank terbesar Indonesia. Untuk sebuah startup AI yang baru benar-benar dikenal publik global pada awal 2025, pertumbuhan valuasi ini tergolong luar biasa cepat.
Pendiri DeepSeek, Liang Wenfeng, dikenal sebagai figur yang tidak terlalu suka sorotan media. Tapi pernyataan perusahaan soal AGI dan rekrutmen masif ini adalah komunikasi publik yang paling eksplisit yang pernah mereka keluarkan soal arah jangka panjang mereka. Bukan kebetulan.
Langkah ini kemungkinan juga merespons tekanan geopolitik. Pembatasan ekspor chip AI dari Amerika Serikat ke China memaksa perusahaan seperti DeepSeek untuk semakin bergantung pada inovasi perangkat lunak dan efisiensi algoritma — bukan kekuatan komputasi mentah. Strategi itu terbukti efektif dengan model R1, dan sekarang mereka ingin mendorong batas itu lebih jauh lagi dengan tim yang lebih besar.
Apakah AGI benar-benar sudah di depan mata seperti yang DeepSeek siratkan? Para ilmuwan komputer masih berdebat soal definisi, apalagi timelinenya. Tapi yang jelas: semakin banyak perusahaan kelas dunia yang mempertaruhkan miliaran dolar dan ratusan talenta terbaik mereka untuk satu jawaban. Dan kompetisi itu kini semakin ramai.
Ringkasan: 3 Poin Kunci
- DeepSeek menargetkan AGI — startup AI asal China ini secara terbuka menyebut kecerdasan buatan umum sebagai tujuan utama, bukan hanya produk AI konvensional.
- Ekspansi rekrutmen masif — 33 posisi di tujuh bidang dibuka untuk menggandakan jumlah karyawan, mencerminkan lompatan struktural seiring valuasi yang menyentuh Rp 940 triliun.
- Persaingan global makin panas — langkah DeepSeek menambah tekanan pada pemain AI global dan mempercepat kompetisi talenta yang sudah semakin ketat di seluruh Asia.
FAQ Singkat
AGI itu apa bedanya dengan AI sekarang? AI saat ini dirancang untuk tugas spesifik — menerjemahkan, menjawab pertanyaan, mengenali gambar. AGI adalah sistem yang bisa melakukan semua jenis tugas kognitif seperti manusia, tanpa perlu diprogram ulang untuk setiap tugas baru.
Apakah AGI sudah ada? Belum. Sejauh ini belum ada sistem yang secara resmi diakui sebagai AGI. Tapi sejumlah perusahaan, termasuk DeepSeek, menyatakan sedang aktif mengejarnya.
Apa dampaknya bagi Indonesia? Persaingan rekrutmen talenta AI semakin keras di tingkat regional. Perusahaan teknologi Indonesia akan menghadapi tekanan lebih besar mempertahankan dan menarik talenta AI terbaik lokal yang kini punya banyak pilihan dari pemain global.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.