Mereka juga menghadiri makan malam yang digelar politisi senior Irlanda untuk membahas “berbagai cara Irlanda bisa membantu”. Laporan ini berasal dari The Guardian.
Sepuluh tahun kemudian, polanya terulang. Komisionaris perlindungan data terbaru Irlanda, Niamh Sweeney, sebelumnya adalah lobbyist senior Meta di Irlanda — tepat saat skandal Cambridge Analytica dan pengungkapan whistleblower Frances Haugen bergulir. Panel seleksinya hanya memasukkan satu pakar teknologi, seorang pengacara yang bekerja untuk industri teknologi besar. Kriteria rekrutmen berfokus pada kemampuan generik seperti “mengelola hubungan” — bukan kemampuan menginvestigasi perusahaan teknologi paling canggih di dunia.
Satu detail yang lebih mengkhawatirkan: tidak ada yang memeriksa apakah Sweeney terikat klausul gag Meta yang melarang mantan karyawan mengkritik perusahaan. Klausul serupa pernah membungkam eksekutif Meta dan whistleblower Sarah Wynn-Williams secara efektif.
Pintu Putar yang Terus Berputar
Komisionaris data sebelumnya, Helen Dixon, kini bekerja untuk firma hukum yang mewakili Meta — dalam banyak kasus aktif melawan DPC sendiri. Saat masih menjabat, Dixon bahkan menggugat otoritas data negara-negara EU lain di pengadilan tertinggi EU karena mereka memilih bahwa DPC harus menginvestigasi penggunaan data intim pengguna oleh Meta. Gugatan itu akhirnya ditolak, tapi tindakan Dixon memberi Meta satu tahun penundaan sebelum investigasi bahkan dimulai.
Dalam buku Careless People karya Sarah Wynn-Williams, ia mengutip pandangan internal Meta tentang DPC sebagai “lapdog” — anjing peliharaan. Gambaran itu terasa familier bagi siapa pun yang ingat bagaimana regulator keuangan Irlanda berperilaku penurut terhadap bank-bank besar menjelang krisis 2008.
Bulan ini, menteri luar negeri Irlanda memposting foto bersama lobbyist Meta di profil LinkedIn-nya. Tanpa rasa canggung.
Konsekuensi Nyata: Bukan Hanya Soal Data
Film dokumenter Molly v the Machines (2026) menceritakan kisah Molly Russell, remaja 14 tahun yang meninggal dunia pada 2017 setelah algoritma media sosial terus-menerus mendorongkan konten bunuh diri ke lini masanya. Aturan EU sebenarnya mewajibkan algoritma rekomendasi semacam itu dimatikan secara default — karena memanfaatkan data yang sangat personal. Tapi penegakannya bergantung pada Irlanda.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.