Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Minta Tambah Kuota Sekolah Rakyat, Pramono Bakal Prioritaskan Anak Jalanan

Minta Tambah Kuota Sekolah Rakyat, Pramono Bakal Prioritaskan Anak Jalanan
Foto: Artem Podrez/Pexels

JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memutuskan menambah 1.000 kuota Sekolah Rakyat di Jakarta setelah berkunjung langsung ke salah satu sekolah berlabel program Presiden Prabowo Subianto. Penambahan ini akan mendongkrak total kuota menjadi 2.000 siswa, dengan syarat utama: satu rupiah dari keluarga paling bawah.

“Jakarta, saya langsung memutuskan untuk minta tambah 1.000 siswa. Kami akan menyiapkan boarding school-nya, nanti pendidikan pembelajarannya dibantu oleh pemerintah pusat,” ujar Pramono saat menghadiri peluncuran buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Sabtu (4 Juli 2026).

Target siswa tambahan tidak boleh sembarangan. Pramono tegas menekankan kategori penerima: anak putus sekolah, anak jalanan, pengamen, hingga anak dari keluarga broken home. Itu komitmen yang nyata, bukan slogan.

Transformasi Siswa yang Menyentuh Hati

Yang membuat Pramono sangat terkesan bukan hanya fasilitas sekolah, melainkan perubahan dramatis pada diri siswa. Ia melihat anak-anak yang dulunya hidup di jalanan kini mampu menguasai berbagai bahasa asing.

“Yang saya kaget, mereka benar-benar bisa bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa China. Wajah mereka pun terlihat berubah, dan itulah menurut saya simbol Marhaenisme,” katanya.

Pramono bahkan tidak malu mengaku emosional saat menyaksikan aktivitas belajar mereka. Momen itu mengingatkannya pada mimpi yang selama ini ia kejar: mengangkat derajat masyarakat kelompok paling bawah melalui pendidikan berkualitas.

“Terus terang, kemarin ketika saya melihat Sekolah Rakyat-nya Pak Prabowo, saya menangis. Karena itulah yang saya mimpikan,” ungkapnya dengan suara yang terdengar dalam hati.

Sekolah Rakyat Sebagai Jembatan Harapan

Bagi Pramono, Sekolah Rakyat lebih dari sekadar institusi pendidikan. Program ini adalah manifestasi nyata komitmen pemerintah untuk tidak meninggalkan anak-anak dari lapisan paling bawah masyarakat. Mereka yang tadinya hanya punya pilihan bekerja anak-anak di jalanan kini punya akses ke pendidikan formal dengan standar internasional.

Sistem berasrama yang diterapkan memberikan jaminan ganda: bukan hanya kurikulum yang kuat, tetapi juga perlindungan sosial dan nutrisi terjamin. Pemerintah pusat juga ikut membantu pembiayaan pembelajaran, sehingga tidak ada lagi alasan ekonomi untuk menolak pendidikan.

Rencana Pramono sejalan dengan upaya nasional perluasan Sekolah Rakyat. Di tingkat daerah lain seperti Ponorogo, Jawa Timur, program ini juga bergulir. Meski di sana masih menghadapi tantangan penjangkauan—kuota SD baru terisi separuh hingga akhir Juni 2026—namun SMP dan SMA sudah mencapai kapasitas penuh, bahkan dengan waiting list yang panjang.

Prioritas Anak Rentan, Bukan Silang Asuh

Yang membedakan usulan Pramono dari skema pendidikan lain adalah fokus pada anak-anak rentan. Tidak ada ruang untuk mengabaikan mereka yang paling membutuhkan. Ini bukan hanya retorika: Pramono menekankan akan memastikan verifikasi ketat agar benar-benar anak dari keluarga terbawah yang mendapat kuota tambahan.

“Saya minta yang 1.000 ini betul-betul dari keluarga terbawah. Keluarga broken home, anak-anak putus sekolah, dan anak-anak yang sebagian besar bekerja di jalanan, pengamen, dan sebagainya,” terangnya dengan penekanan.

Komitmen ini penting di tengah realitas Jakarta yang masih punya banyak anak jalanan dan putus sekolah. Data pasti jumlah mereka memang sulit, namun siapa pun yang pernah jalan-jalan di pusat kota tahu bahwa angkanya tidak sedikit. Program ini bisa menjadi pintu keluar nyata.

Langkah Berikutnya: Infrastruktur dan Pendamping

Pertanyaan praktis muncul: bagaimana Jakarta menyiapkan 1.000 tempat boarding school tambahan? Pramono menyebut pemerintah pusat ikut membantu, tapi detail teknis masih perlu dijabarkan. Apakah akan dibangun gedung baru, atau memanfaatkan fasilitas yang ada?

Selain infrastruktur, aspek pendamping sosial juga krusial. Anak-anak jalanan dan putus sekolah biasanya membawa trauma dan hambatan psikologis. Mereka perlu bimbingan emosional, bukan hanya akademik. Kesuksesan Sekolah Rakyat akan bergantung pada seberapa baik tim pendamping mampu memahami kebutuhan mereka.

Momentum ini adalah kesempatan. Sekolah Rakyat bukan sekedar program musiman—ia adalah investasi jangka panjang pada generasi yang kini terancam tersingkir. Jika Pramono dan tim dapat mewujudkan rencana ini dengan serius, Jakarta bisa menunjukkan bahwa tidak ada anak yang ditinggalkan.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda