JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan solid, tumbuh 5,61% pada Triwulan I 2026. Ini adalah capaian pertumbuhan triwulan pertama tertinggi sejak 2014, membuktikan fundamental ekonomi tetap kuat di tengah gejolak global.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan langsung kabar menggembirakan ini dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) pada Selasa (7/7/2026). Laporan tersebut sekaligus menegaskan akuntabilitas pemerintah dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026.
Pendapatan Negara Melonjak Tajam, Belanja Fokus Prioritas
Hingga Semester I 2026, realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun. Angka ini setara 46,3 persen dari target APBN, dan melonjak signifikan 21,4% secara tahunan (yoy) dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya.
Kinerja impresif itu ditopang kuat oleh penerimaan perpajakan yang mencapai Rp1.187,8 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp271,0 triliun. Menkeu Purbaya menjelaskan, peningkatan tersebut karena membaiknya aktivitas ekonomi domestik, penguatan tata kelola perpajakan dan kepabeanan, serta peningkatan kualitas layanan di berbagai kementerian dan lembaga.
“APBN 2026 bekerja keras mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan mendukung agenda prioritas pembangunan nasional dengan tetap menjaga tata kelola keuangan yang sehat, kredibel, dan akuntabel,” ujar Menkeu Purbaya dalam paparannya.
Sementara itu, realisasi belanja negara hingga Semester I 2026 tercatat Rp1.656,0 triliun atau 43,1 persen dari pagu APBN, tumbuh 17,8% (yoy). Dana ini dialokasikan strategis untuk delapan agenda prioritas nasional. Termasuk di antaranya penguatan ketahanan pangan dan energi, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), peningkatan kualitas pendidikan, hingga penguatan sistem pertahanan semesta.
Belanja negara juga diarahkan untuk penyaluran bantuan sosial, pembangunan infrastruktur, serta subsidi dan kompensasi. Ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat agar tetap stabil di tengah tantangan ekonomi.
Defisit Terkendali, Inflasi Aman
Meski belanja negara meningkat untuk program strategis, disiplin fiskal tetap menjadi prioritas utama. Defisit APBN Semester I 2026 tercatat hanya Rp196,5 triliun, atau 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka defisit ini jauh di bawah batas maksimal yang diperbolehkan undang-undang. Ini menunjukkan pengelolaan anggaran yang hati-hati dan bertanggung jawab.
Stabilitas makroekonomi juga tercermin dari tingkat inflasi yang terkendali di level 3,34% pada Juni 2026. Indikator lain seperti pertumbuhan kredit, likuiditas perekonomian, dan aliran modal asing yang kembali mencatat net inflow turut memperkuat posisi cadangan devisa nasional.
“Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian global, peran APBN sangat strategis sebagai shock absorber dalam menjaga stabilitas perekonomian dan menjaga daya beli masyarakat,” tambah Menkeu Purbaya.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.