Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Belajar dari Kebakaran TPA Jatiwaringin, Perlu Ada Kamera Termal dan Drone

Belajar dari Kebakaran TPA Jatiwaringin, Perlu Ada Kamera Termal dan Drone
Suasana hari ke-10 kebakaran TPA Jatiwaringin, asap masih mengepul (Foto: Dok. Istimewa)

Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) bukan sekadar musibah lingkungan, melainkan sinyal bahwa sistem manajemen sampah kita butuh pembaruan teknologi. Belajar dari insiden kebakaran TPA Jatiwaringin, para ahli menekankan pentingnya beralih dari pola pemadaman reaktif menjadi sistem pencegahan berbasis deteksi dini.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengusulkan pemanfaatan teknologi canggih untuk memitigasi risiko. Kuncinya terletak pada pengawasan ketat terhadap suhu dan gas di area timbunan sampah yang rentan memicu api tanpa kita sadari.

Teknologi sebagai Penjaga TPA

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wahyu Purwanta, menyebutkan bahwa pemantauan manual tidak lagi cukup untuk menangani skala risiko di TPA modern. Ia mengusulkan penggunaan kamera termal dan drone untuk memantau titik panas atau hotspot di area yang sulit dijangkau mata manusia.

“Teknologi untuk mencegah kebakaran perlu dikembangkan, antara lain pemantauan temperatur, kamera dan drone termal, sensor gas, pengelolaan gas landfill, serta sistem peringatan dini berbasis kombinasi data timbunan dan cuaca,” ujar Wahyu dalam diskusi di Media Lounge BRIN, Jakarta, Rabu (9/7/2026).

Sistem ini bekerja dengan memantau parameter krusial seperti suhu permukaan hingga ke dalam lapisan sampah, kelembapan udara, kecepatan angin, hingga jumlah hari tanpa hujan. Data tersebut kemudian diolah menjadi indeks risiko kebakaran yang terukur.

Mengapa Pencegahan Dini Penting?

Secara ilmiah, TPA merupakan gudang bahan bakar raksasa. Plastik, kertas, tekstil, hingga karet adalah material yang mudah terbakar jika bertemu dengan oksigen dan sumber panas. Gas metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah organik juga bisa menjadi pemicu ledakan atau penyulut api.

Sering kali, api tidak muncul dari luar, melainkan dari proses kimiawi atau panas di dalam timbunan itu sendiri. Investasi pada sensor gas dan pemantauan suhu bawah permukaan memungkinkan pengelola TPA untuk melakukan intervensi sebelum api membesar.

Dengan data yang akurat, tim tanggap darurat dapat mengidentifikasi area yang suhunya mulai tidak normal, sehingga penanganan bisa dilakukan sebelum menjadi bencana besar.

Bukan Sekadar Membeli Alat

Meski teknologi terlihat menjanjikan, Wahyu mengingatkan bahwa teknologi bukanlah solusi instan yang bisa diterapkan seragam di semua lokasi. Keberhasilan sistem pencegahan bergantung pada kecocokan teknologi dengan karakteristik sampah, kompetensi operator di lapangan, serta pemeliharaan rutin alat tersebut.

Pengelolaan sampah yang benar harus dimulai dari hulu agar residu yang masuk ke TPA lebih terkontrol. Sampah organik idealnya diolah menjadi kompos atau biodigester, sementara material bernilai ekonomi sebaiknya didaur ulang. Dengan semakin berkurangnya volume sampah campuran, risiko kebakaran di fasilitas akhir juga akan menurun secara signifikan.

Jangka panjangnya, kebijakan harus memastikan bahwa TPA hanya menerima residu akhir. Ketika tumpukan sampah tidak lagi tercampur secara sembarangan, potensi ledakan gas atau kebakaran hebat akibat tumpukan material yang tidak stabil dapat ditekan ke tingkat minimal.

Ringkasan Pencegahan Kebakaran TPA

MetodeFungsi UtamaKamera/Drone TermalMendeteksi hotspot atau anomali suhu di permukaan.Sensor GasMemantau akumulasi metana dan gas berbahaya lainnya.Analisis Data CuacaMenilai tingkat kekeringan dan risiko penyebaran api.

Dengan menerapkan sistem pemantauan yang terintegrasi, kita tidak lagi sekadar memadamkan api, melainkan mengunci celah terjadinya bencana. Perlindungan lingkungan di sekitar TPA Jatiwaringin dan wilayah lainnya sangat bergantung pada keberanian kita beralih ke manajemen sampah berbasis sains.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda