Warga Kota Bandung belakangan ini hidup dalam bayang-bayang ketakutan setiap kali harus melintasi jalanan di malam hari. Rasa cemas itu bukan sekadar desas-desus, melainkan realitas pahit yang memaksa pekerja sif malam mencari perlindungan ekstra hingga meminta pengawalan polisi demi bisa sampai ke rumah dengan selamat.
Siti Nuraziza (25) adalah salah satu yang merasakannya langsung. Rabu malam lalu, ia terjebak dalam dilema klasik: harus pulang kerja melewati kawasan Rajawali, namun nyalinya ciut gara-gara pengalaman melihat sekelompok pengendara motor berperilaku mencurigakan malam sebelumnya.
Daripada ambil risiko jadi korban begal, Siti memutuskan mengambil langkah yang tidak biasa bagi warga sipil kebanyakan.
Pukul 21.48 WIB, jemarinya gemetar menekan angka 110 di ponsel. Ia memberanikan diri meminta bantuan pengawalan. Suaranya terdengar cemas saat menjelaskan posisi dan ketakutannya kepada operator layanan darurat. Panggilan tersebut diteruskan ke Polsek Andir sebagai otoritas wilayah setempat.
Sembari menunggu, waktu terasa berjalan sangat lambat. Siti bahkan sempat melontarkan ide untuk berlindung di kantor pemadam kebakaran jika polisi tak kunjung datang.
Penantian di Bawah Lampu Jalan
Butuh waktu 40 menit bagi petugas untuk mencapai titik koordinat Siti. Bukan cuma sekali, ia harus menelpon petugas sebanyak tiga kali untuk memastikan permintaan bantuan tersebut benar-benar direspon. Kesabaran itu terbayar saat lampu sirine biru mulai membelah kesunyian malam di Rajawali.
Petugas kepolisian hadir tepat waktu untuk mengawal Siti dan rekannya menuju rumah mereka di kawasan Cibaduyut dan Kopo.
“Tadinya sudah putus asa. Saya bilang, ‘Udahlah kita ke Damkar aja kalau enggak ada.’ Eh habis ngomong gitu polisinya datang,” kata Siti saat mengisahkan detik-detik menegangkan itu, Kamis (23/7). Kehadiran personel di sana bukan sekadar pajangan. Mereka memastikan perjalanan pulang benar-benar bebas dari gangguan orang asing yang berniat jahat.
Pengalaman ini meninggalkan trauma sekaligus kesadaran baru bagi Siti. Sekarang, ia lebih memilih tidur di kantor daripada harus bertaruh nyawa di jalan raya saat jarum jam melewati angka sepuluh. Baginya, situasi keamanan kota sudah sampai di titik yang membuat mobilitas warga terganggu secara ekstrem.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.