KABUPATEN BANDUNG — Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal yakin perayaan kemerdekaan di tingkat kampung bisa lebih dari sekadar hiburan. Dia melihat tradisi Agustusan sebagai momen strategis menanamkan nilai nasionalisme langsung kepada generasi muda, terutama Gen Alpha yang tumbuh di era digital.
Permainan rakyat tradisional, aksi peduli lingkungan, perlombaan kreatif—Cucun menilai aktivitas-aktivitas ini jauh lebih bermakna daripada panggung hiburan kosong. Lewat kegiatan konkret, anak-anak bisa memahami proses perjuangan bangsa, bukan hanya mengenal nama-nama pahlawan dari buku.
“Yang penting, pertahankan budaya-budaya kita yang dulu sehingga mereka tahu proses kemerdekaan yang dialami orang tua dulu dan mereka ikut memahami,” ujar Cucun saat bertemu pengurus Karang Taruna dan RW dari wilayah Solokanjeruk, Majalaya, Paseh, Ibun, dan Ciparay, Sabtu (8/8/2026).
Bantuan untuk 220 RW
Untuk mewujudkan visi tersebut, Cucun langsung mengalokasikan dukungan dana kepada 220 RW di daerah pemilihannya. Bantuan ini dirancang agar setiap tingkat akar rumput bisa menyelenggarakan Agustusan yang tidak hanya meriah, tetapi juga edukatif dan melibatkan warga secara langsung.
Pendekatan ini bukan sekadar soal anggaran. Cucun menekankan bahwa karang taruna dan pengurus RW harus menghindari agenda minim edukasi. Sebaliknya, mereka diminta menciptakan kegiatan yang melibatkan anak-anak secara aktif, mencerminkan nilai heroisme dan nasionalisme nyata.
Drama teatrikal tentang perjuangan, forum diskusi peran pemuda untuk negara, atau aktivitas lingkungan yang bermakna—Cucun percaya genre kegiatan semacam ini bisa dihidupkan kembali sebagai ruang pembelajaran konkret bagi generasi muda. Bukan sekadar nostalgia, melainkan transfer nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Nasionalisme di Era Digital
Cucun mengakui tantangan nyata dalam menjaga nasionalisme era digital. Anak-anak tumbuh di tengah derasnya arus informasi, konten entertainment tanpa henti, dan pola bermain yang individual. Dalam konteks ini, momentum perayaan kemerdekaan menjadi semakin krusial—sebagai ruang fisik untuk mendekatkan kembali makna merdeka kepada mereka.
“Anak-anak zaman sekarang perlu didekatkan lagi pada makna kemerdekaan melalui aktivitas nyata di lingkungan mereka,” tegasnya. Artinya, nilai nasionalisme tidak cukup diajarkan lewat materi pelajaran sekolah. Perlu ada pengalaman langsung, kebersamaan, dan aktivitas yang terasa bermakna di komunitas mereka sendiri.
Pilihan Cucun untuk mendukung 220 RW menunjukkan komitmen menyentuh level grassroot, bukan hanya tingkat pemerintah pusat. RW adalah unit sosial paling dekat dengan keluarga dan anak-anak. Di sini, tradisi Agustusan bisa dijalankan dengan fleksibilitas tinggi sekaligus resonansi emosional yang kuat.
Tarik Anak-anak Langsung
Salah satu catatan penting dari Cucun: karang taruna mesti memastikan anak-anak terlibat langsung, bukan hanya sebagai penonton. Ini sejalan dengan prinsip pembelajaran aktif—di mana peserta, khususnya generasi muda, menjadi subjek, bukan objek.
Misalnya, dalam perlombaan tradisional seperti tarik tambang, gobak sodor, atau balap karung, anak-anak tidak hanya bersenang-senang. Mereka belajar tentang kebersamaan, strategi, kerja sama tim—nilai-nilai yang juga mendasari perjuangan kemerdekaan.
Aksi peduli lingkungan, seperti pembersihan sungai atau penanaman pohon, mengajarkan tanggung jawab kepada generasi muda tentang masa depan bangsa yang mereka akan warisi.
Dengan cara ini, Agustusan bukan sekedar peringatan kalender. Ia menjadi alat edukasi hidup yang memberikan pengalaman bermakna dan mengendapkan kesadaran nasionalisme dalam diri anak-anak.
Langkah Cucun ini mencerminkan upaya memperkuat pilar kebersamaan di tengah fragmentasi sosial yang makin terasa. Dengan memberdayakan 220 RW, dia juga mengakui bahwa peran pemimpin lokal, karang taruna, dan pengurus wilayah sangat krusial dalam memelihara identitas bangsa.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.