Ribuan anak muda di Nusa Tenggara Barat (NTB) kini berdiri di persimpangan jalan antara menjadi pencari kerja atau justru menciptakan peluang sendiri. Komisi VII DPR RI mencoba memangkas kebimbangan itu dengan mendorong sektor ekonomi kreatif, khususnya profesi konten kreator, sebagai tulang punggung baru perekonomian daerah.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Rahayu Saraswati, membawa pesan ini langsung ke meja Pemerintah Provinsi NTB di Mataram, Selasa (19/11). Di hadapan Pj Gubernur NTB H Lalu M Iqbal dan jajaran kementerian terkait, Rahayu menegaskan bahwa ekonomi kreatif telah bergeser dari sekadar kriya atau fashion ke arah produksi konten digital yang jauh lebih masif dan menjanjikan.
Memutus Rantai Ketergantungan
Bagi Rahayu, profesi kreator konten adalah jawaban atas keterbatasan lapangan kerja formal. Ia menyebut model ini sebagai self-employment yang sepenuhnya mandiri. Anak muda tidak perlu lagi pusing memikirkan antrean lamaran kerja yang panjang. Cukup bermodalkan gawai di tangan dan sedikit keahlian menyunting video, pintu pendapatan sudah terbuka lebar.
Fleksibilitas menjadi kunci di sini. Konten kreator tidak terikat jam kantor yang kaku. Mereka adalah bos bagi diri sendiri, penentu operasional, sekaligus pengatur pundi-pundi pendapatan. Meski tidak ada jaminan gaji bulanan layaknya karyawan korporasi, potensi penghasilan dari kreativitas digital seringkali justru jauh melampaui ekspektasi standar pekerja kantoran.
Pertemuan di Kantor Gubernur NTB itu pun terasa hidup dengan kehadiran para pemangku kepentingan, mulai dari Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian UMKM, hingga perwakilan media nasional seperti LKBN ANTARA, TVRI, dan RRI. Mereka semua sepakat bahwa anak muda NTB punya modal besar untuk menjadi wajah baru di panggung digital nasional.
Bukan Sekadar Tren, Tapi Strategi
DPR RI melihat ini sebagai langkah krusial. Sektor ekonomi kreatif diyakini mampu menekan angka pengangguran yang masih menghantui kalangan milenial dan Gen Z di NTB. Lebih dari sekadar mencari cuan, para kreator ini sebenarnya sedang bertindak sebagai duta promosi daerah. Setiap video yang mereka unggah, tiap cerita yang mereka bagi, adalah pemasaran gratis untuk wisata dan kekayaan lokal.
Namun, tantangannya tetap nyata. Ide kreatif saja tidak cukup tanpa dukungan ekosistem yang sehat. Rahayu menekankan, pemerintah daerah kini punya pekerjaan rumah besar. Mereka diminta menyediakan infrastruktur non-fisik yang memadai, terutama terkait akses pembiayaan yang lebih ramah bagi pelaku usaha mikro digital.
Pelatihan berkelanjutan menjadi poin yang tak bisa ditawar. Seringkali, anak muda punya bakat besar tapi gagap soal manajemen bisnis atau bagaimana cara mengakses permodalan. Di sinilah peran pemerintah daerah dibutuhkan untuk menjadi jembatan bagi mereka.
Dukungan dari legislatif pusat pun sudah dikunci. Rahayu menyatakan komitmen penuh untuk mengawal pengembangan ekosistem kreatif di NTB. Transformasi ekonomi berbasis digital ini tidak akan berjalan jika hanya mengandalkan inisiatif anak muda secara sporadis. Perlu ada orkestrasi kebijakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya di lapangan.
Kini, bola ada di tangan para pemangku kebijakan daerah untuk menerjemahkan arahan ini ke dalam program nyata. Apakah ini akan menjadi lompatan besar bagi ekonomi NTB atau hanya sekadar wacana di ruang rapat, tergantung pada seberapa serius pendampingan yang akan diberikan kepada para kreator muda tersebut dalam beberapa bulan ke depan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.