Juru bicara komite tersebut, Valiullah Bayati, menyebut garis besar rencana itu sudah disetujui setelah mendengar berbagai pandangan. Dalam laporan Sindonews, salah satu poinnya melarang pelintasan kapal dan peralatan milik AS, Israel, dan negara-negara yang disebut “bermusuhan” melalui selat tersebut.
Dampaknya ke pasar energi dan pelayaran
Selat Hormuz bukan jalur biasa. Jalur ini dipantau ketat karena jadi penghubung penting bagi lalu lintas energi global. Saat Iran dan AS saling klaim soal kendali, yang terdampak bukan cuma hubungan dua negara itu, tapi juga biaya dan kepastian pengiriman minyak di pasar internasional.
Tekanan seperti ini bisa membuat perusahaan pelayaran berhitung ulang. Kapal tanker, perusahaan asuransi, sampai trader energi akan membaca setiap pernyataan resmi sebagai sinyal risiko. Satu pengumuman saja dapat mengubah ekspektasi pasar, terutama saat jalur sempit itu dipersepsikan tidak aman atau bisa ditutup sewaktu-waktu.
ANT menulis bahwa pernyataan terbaru dari kedua negara menunjukkan ketegangan terkait akses pelayaran di kawasan tersebut masih berlangsung. Di titik ini, perhatian tertuju pada apakah pembicaraan diplomatik, termasuk dengan Oman, benar-benar bergerak atau justru tertahan oleh saling ancam yang terus berulang.
Yang jelas, Selat Hormuz belum keluar dari sorotan. Dan setiap pernyataan baru dari Teheran atau Washington masih bisa memicu reaksi cepat di jalur pelayaran yang paling sensitif di kawasan itu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.