JAKARTA — Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 diproyeksikan menjadi pendorong utama bagi pergerakan saham emiten badan usaha milik negara (BUMN). Fokus pemerintah pada hilirisasi serta konsolidasi aset negara menjadi sinyal positif yang ditangkap para pelaku pasar modal.
Pemerintah menetapkan target belanja negara dalam RAPBN 2027 sebesar Rp4.079,2 triliun, sementara target pendapatan negara dipatok Rp3.426 triliun. Defisit anggaran direncanakan berada di angka 2,40% terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih rendah dibandingkan outlook tahun 2026 yang sebesar 2,85%.
Sektor Strategis dan Saham Unggulan
Managing Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mencermati pidato Presiden Prabowo Subianto terkait nota keuangan tersebut memberikan sentimen cukup baik bagi pasar. Ia menilai arah kebijakan pemerintah memberikan kepastian, terutama dengan beroperasinya Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang berhasil menghimpun devisa hasil ekspor sekitar US$5 miliar dalam 2,5 bulan pertama.
Kondisi ini membuat sejumlah saham BUMN tetap berada di posisi teratas pilihan investasi Samuel Sekuritas. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Timah (Persero) Tbk. (TINS), dan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) menjadi aset yang dinilai paling selaras dengan agenda hilirisasi serta penguatan komoditas strategis nasional.
Bagi investor, langkah pemerintah ini memberikan sinyal adanya fokus pada efisiensi di tubuh BUMN. Saham-saham perbankan besar seperti BMRI dipandang mampu merespons kebutuhan modal proyek infrastruktur, sementara emiten tambang seperti TINS dan ANTM berada di garda depan agenda hilirisasi nasional.
Tantangan Fiskal dan Eksekusi Proyek
Di sisi lain, Head of Research RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, menyoroti tantangan dalam realisasi anggaran. Target pertumbuhan pendapatan negara sebesar 6,8 persen dianggap cukup menantang. Hal ini berkaca pada realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester I/2026 yang tercatat sebesar 5,45 persen.
Pemerintah sendiri telah menyusun daftar proyek besar dalam RAPBN 2027, di antaranya pengembangan energi surya hingga 100 GW, pembangunan Indonesia Financial Center, serta proyek Giant Sea Wall senilai US$100 miliar. Keberhasilan proyek-proyek jumbo ini sangat bergantung pada partisipasi modal swasta serta kepastian regulasi di lapangan.
Harry Su menambahkan, meski prospek pasar cukup cerah, pengawasan tata kelola tetap menjadi poin krusial. Peluncuran program nasional yang bersifat masif dan cepat memerlukan disiplin tinggi agar terhindar dari risiko korupsi yang bisa menghambat efisiensi ekonomi jangka panjang.
Investor ke depan akan terus memantau apakah disiplin fiskal dalam target defisit 2,40 persen dapat dipertahankan seiring dengan bergulirnya realisasi belanja negara di tahun 2027 mendatang.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.