Menurut Cleveland Clinic, konsumsi high fructose corn syrup bisa meningkatkan produksi lemak dan kadar peradangan yang merugikan, dua hal yang sama-sama berkaitan dengan risiko kanker.
Studi itu juga mencatat bahwa pemanis buatan yang sering dipakai pada soda diet tidak menunjukkan risiko yang sama seperti fruktosa. Ini memberi gambaran bahwa jenis pemanis mungkin berpengaruh, bukan hanya rasa manisnya saja.
Para peneliti juga mencoba menyingkirkan penyebab utama kanker lambung yang paling sering diketahui, yakni infeksi bakteri Helicobacter pylori. Infeksi pada lapisan lambung ini menyumbang sebagian besar kasus di seluruh dunia.
Dalam subkelompok hampir 1,000 peserta, tim riset menemukan sebagian orang memang memiliki bakteri itu, namun mereka tidak menemukan hubungan antara konsumsi minuman tersebut dan infeksi.
Artinya, penelitian ini sengaja menahan diri di titik yang hati-hati. Hubungan ada. Dugaan mekanismenya ada. Tetapi pembuktian bahwa minuman manis benar-benar menyebabkan kanker lambung belum selesai.
Dampaknya buat pola makan sehari-hari
Bagian yang paling dekat dengan pembaca justru ada di sini. Minuman manis bukan satu-satunya faktor yang disorot dalam bahan sumber, tetapi studi ini menambah alasan untuk memeriksa ulang kebiasaan yang terasa sepele.
Soda, minuman energi, dan jus buah kemasan sering hadir sebagai teman makan siang, pelepas haus, atau pengganti air putih. Kalau dikonsumsi tiap hari, akumulasi risikonya bisa jadi bahan pertimbangan baru, apalagi saat penelitian menunjukkan kaitan dengan kanker lambung.
American Cancer Society juga menyinggung faktor lain yang berkaitan dengan risiko kanker lambung, termasuk makanan yang diawetkan dalam larutan garam, daging olahan, daging yang dipanggang atau dibakar, serta kurang makan buah. Jadi, isu ini tidak berdiri sendiri. Kebiasaan minum dan makan berjalan beriringan.
Di Amerika Serikat, kanker lambung memang tergolong lebih jarang, hanya 1.5 persen dari kasus kanker baru tahunan. Tapi angka itu tidak membuat temuan ini kecil. Justru karena penyakitnya relatif jarang, setiap petunjuk soal pencegahan punya bobot tersendiri.
Chan menegaskan kepada Fox News Digital bahwa penelitian ini belum bisa membuktikan sebab-akibat. “What we did see was an association. We certainly need to do more research to understand whether this association between sugary-sweetened beverages and stomach cancer is truly causal,” katanya.
Di titik ini, arah riset berikutnya jadi penting. Para peneliti perlu melihat apakah hubungan itu konsisten di kelompok lain, bagaimana peran bahan pemanisnya, dan faktor gaya hidup apa yang ikut menumpuk di belakangnya. Untuk sekarang, satu pesan sudah cukup jelas: kebiasaan minum manis tiap hari bukan lagi perkara kecil yang bisa diabaikan begitu saja.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.