Senin, 24 Agustus 2026 WIB
BREAKING
POLITICS

Gempa Flores Picu Debat, BMKG Tegaskan Sesar Aktif Jadi Pemicu

Gempa Flores Picu Debat, BMKG Tegaskan Sesar Aktif Jadi Pemicu
Gempa Flores Picu Debat, BMKG Tegaskan Sesar Aktif Jadi Pemicu

Gempa M7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 kembali menyeret nama Sesar Naik Busur Belakang Flores ke ruang publik. BMKG menyebut gempa itu dipicu aktivitas sesar aktif di laut, sementara perdebatan soal kaitannya dengan proyek geothermal ikut mengemuka.

Guncangan besar itu terjadi dangkal, berpusat di laut utara Flores, dan sempat memicu peringatan dini tsunami sebelum dicabut beberapa jam kemudian. Dampaknya terasa luas. Dari Maumere sampai Nagekeo, perhatian warga dan pemerintah tersedot ke penanganan korban, susulan gempa, dan pemulihan di pesisir.

BMKG dalam keterangan yang dikutip InfoPublik menyebut gempa M7,7 NTT dipicu Sesar Naik Busur Belakang Flores. CNBC Indonesia juga menulis bahwa analisis BMKG menunjukkan mekanisme naik atau thrust fault, dengan struktur aktif di utara Flores yang mampu memunculkan gempa dangkal bermagnitudo besar.

Struktur ini bukan nama baru bagi warga NTT. Justru karena aktif, wilayah Flores dan pulau-pulau di sekitarnya berulang kali diguncang gempa kuat. Metro TV News mencatat pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Kondisi itu cukup untuk mengguncang permukiman dan memunculkan gelombang kecil di beberapa titik pesisir.

Di tengah situasi itu, muncul pula upaya mengaitkan gempa dengan proyek geothermal di Flores. Namun dalam tulisan di Investortrust, Dr Ing Ignasius Iryanto Djou menegaskan Flores tengah berduka karena gempa tektonik alami, bukan karena geothermal. Ia menyebut fakta itu sekaligus membuka ruang bagi pengembangan energi geothermal yang tepat.

Pernyataan itu sejalan dengan penekanan BMKG bahwa sumber gempa berasal dari aktivitas tektonik, bukan dari proyek energi panas bumi. Di lapangan, perdebatan ini ikut memberi warna politik, karena narasi soal bencana sering cepat bersinggungan dengan kepentingan pembangunan dan penolakan warga.

Flores masih berada dalam fase waspada. Gempa susulan terus dipantau, sementara satu hal tampak makin jelas: diskusi berikutnya bukan soal apakah sesar itu aktif, melainkan bagaimana pemerintah dan masyarakat hidup berdampingan dengan ancaman yang sudah lama ada di utara pulau itu.

(MJ)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda