Di lapangan, penanganan cepat pemerintah daerah ikut menentukan seberapa jauh kasus ini merembet. Karena itu, langkah BGN menutup dapur dan mencopot kepala SPPG dibaca sebagai upaya mengunci sumber masalah lebih awal, sembari menunggu hasil evaluasi teknis dan investigasi internal.
Pemerintah siapkan pendampingan psikologis
Selain kondisi fisik, pemerintah juga menaruh perhatian pada pulihnya mental para santri. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Choiri Fauzi yang ikut meninjau korban menyatakan kementeriannya siap memberi pendampingan trauma healing jika para santri masih memerlukan dukungan psikologis dan emosional.
Pendampingan itu akan dilakukan dengan menggandeng pemerintah daerah, pihak pesantren, dan para korban. Arifah melihat aspek ini penting karena kejadian seperti dugaan keracunan MBG bisa meninggalkan rasa takut, cemas, atau enggan menyantap makanan yang disediakan bersama dalam waktu cukup lama.
Dalam peristiwa semacam ini, pemulihan tidak selesai di meja perawatan. Setelah gejala fisik mereda, kepercayaan pada penyedia makanan dan rasa aman di lingkungan pendidikan harus dibangun lagi. Itu sebabnya, pendampingan psikologis menjadi bagian dari respons yang ikut menentukan apakah santri bisa kembali ke rutinitas tanpa beban tambahan.
Sumber pembanding JPNN menyebut jumlah santri yang terdampak berada di kisaran 740-an, sementara ANTARA menggarisbawahi perlunya penghentian sementara SPPG untuk evaluasi menyeluruh. Sementara itu, detikJatim melaporkan BGN telah mencopot Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, dan menegaskan perbaikan tata kelola akan terus dilakukan.
“Saya sampaikan permohonan maaf kami atas mungkin kelalaian ataupun ketidakpatuhan petugas dapur dalam mengoperasikan sehingga adanya kejadian fatal,” kata Trenggono dalam laporan JPNN.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.