Pesawat membawa bahan semai menuju awan yang telah ditentukan sebelumnya. Namun sebelum penerbangan berangkat, kondisi atmosfer dan perkembangan awan harus dipantau dengan cermat. Langkah ini menentukan apakah operasi akan dilaksanakan atau ditunda.
Satelit Himawari 8 Deteksi Awan Potensial
Untuk mengidentifikasi awan yang tepat, teknologi satelit menjadi alat bantu penting. Penelitian BRIN dan BMKG mengenai satelit Himawari 8 menunjukkan bahwa skema daytime microphysics RGB dapat membantu mendeteksi kemunculan awan cumulus potensial.
Metode satelit ini mampu mendeteksi awal kemunculan awan potensial sekitar satu hingga dua jam sebelum pesawat penyemaian cuaca mencapai lokasi. Data satelit tersebut melengkapi informasi dari radar cuaca dalam menentukan lokasi penyemaian yang paling efektif.
“Operasi hujan buatan bukan hanya soal pesawat dan bahan semai. Di belakangnya terdapat analisis meteorologi, pemantauan radar, satelit, arah angin dan perkembangan awan,” jelas BRIN dalam publikasinya.
Faktor Cuaca & Analisis Menentukan Kesuksesan
Tidak semua operasi OMC berhasil menghasilkan hujan. Kondisi atmosfer menjadi penentu utama. Angin yang kuat dan tidak adanya awan potensial adalah kendala utama pelaksanaan modifikasi cuaca. Penentuan waktu, lokasi, jenis awan, dan jumlah bahan semai juga sangat penting.
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyatakan bahwa penerbangan OMC ditentukan berdasarkan analisis kondisi atmosfer, pertumbuhan awan potensial, arah dan kecepatan angin, persebaran titik panas, serta kebutuhan pembasahan wilayah rawan karhutla.
Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan KLH/BPLH Dasrul Chaniago menjelaskan pentingnya pendekatan terukur: “Penyemaian awan diarahkan secara terukur ke wilayah yang memberikan dampak optimal terhadap penanggulangan kebakaran.”
OMC Hanyalah Bagian dari Strategi Komprehensif
Meski teknologi ini penting, OMC bukan upaya yang berdiri sendiri. Operasi pengendalian kebakaran harus mengintegrasikan beberapa elemen sekaligus. “Pelaksanaannya harus berjalan bersama dengan patroli, pemeriksaan titik panas, pemadaman darat, pembasahan gambut, pengelolaan tata air, pelibatan masyarakat, pengawasan badan usaha, dan penegakan hukum,” ujar Dasrul.
Strategi yang sama juga diterapkan Malaysia. Pada 24 Agustus 2026, Indonesia memberikan izin resmi kepada lembaga Malaysia untuk memasuki wilayah udara Indonesia guna melakukan operasi cloud seeding di Sarawak. Kerja sama ini penting karena jerebu dari kebakaran di Borneo berdampak langsung ke wilayah Sarawak.
Pada Jumat (4/9), National Disaster Management Agency (NADMA) Malaysia melaporkan indeks pencemaran udara di Serian, Sarawak mencapai 510 pada pukul 09.00 waktu setempat—masuk kategori sangat berbahaya dan melampaui ambang 500 yang menjadi level darurat.
Seketika itu juga Malaysia menetapkan keadaan darurat di distrik Serian setelah indeks polusi mencapai 519. Upaya modifikasi cuaca lintas batas menjadi langkah strategis untuk mengatasi krisis kabut asap regional yang semakin gawat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.