JAKARTA — Kapal perang Jepang JS Kunisaki telah tiba di perairan Kalimantan Barat dengan membawa tiga helikopter CH-47 Chinook untuk membantu Indonesia memerangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kapal tersebut dijadwalkan merapat di Pelabuhan Kijing, Mempawah, pada Kamis (10/9).
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengumumkan kedatangan kapal itu pada Rabu (9/9) sore waktu setempat. “Kapal induk Jepang hari ini sudah sampai di perairan Kalimantan Barat,” kata Rico kepada wartawan di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta.
Kedatangan armada Jepang ini merupakan respons konkret dari pemerintah Jepang atas lonjakan kebakaran yang menghancurkan ribuan hektar hutan di Sumatra dan Kalimantan. Bukan sekadar helikopter—Jepang menerjunkan sekitar 180 personel untuk mendukung operasi penuh.
Uji Penerbangan dan Persiapan Operasi
Sebelum terjun ke lapangan, ketiga Chinook itu harus melewati serangkaian pengujian ketat. Tim Jepang akan melakukan uji penerbangan di Bandar Udara Supadio, Pontianak, untuk memastikan helikopter dapat beroperasi optimal dari landasan tersebut.
“Mereka akan melaksanakan test flight di Pontianak, memastikan bahwa Chinook CH-47 itu bisa mendarat di Bandar Udara Supadio,” jelas Rico. Proses ini sangat penting karena kondisi medan dan cuaca Kalimantan memiliki karakteristik khusus yang berbeda dari wilayah operasi lainnya.
Jika segala sesuatu berjalan lancar, operasi pemadaman resmi dijadwalkan dimulai pada 11 atau 12 September. “Harapannya tanggal 11 atau 12 September baru mulai melaksanakan operasi penanggulangan bencana,” ujar Rico.
Dampak Nyata bagi Pemadaman Karhutla
Kehadiran helikopter Chinook akan mengubah strategi pemadaman secara signifikan. Mesin ini mampu menjangkau zona kebakaran yang sangat sulit diakses melalui jalur darat—terutama di tengah hutan yang lebat dan rawa-rawa. Dengan kapasitas membawa beban air atau retardant yang besar, Chinook dapat melakukan drop masif dalam sekali terbang, mempercepat proses pemadaman.
Sebelumnya, pemadaman mengandalkan kombinasi jalur darat dan helikopter ringan yang terbatas. Penambahan tiga unit Chinook—pesawat premium dengan daya angkut superior—merupakan lompatan kualitas yang substansial.
Durasi Operasi dan Fleksibilitas
Menurut rencana Kementerian Pertahanan, tim Jepang akan beroperasi selama 21 hari. Namun durasi ini tidak kaku—akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi karhutla di lapangan. Jika situasi memburuk, operasi bisa diperpanjang; jika terkendali, bisa dipercepat penutupannya.
Kerja sama dengan Jepang ini mencerminkan semakin intensifnya upaya Indonesia mengundang dukungan internasional dalam memerangi bencana alam skala besar. Negara-negara mitra terus dimobilisasi untuk mengurangi luas kebakaran yang setiap tahun ancam ekosistem dan kehidupan masyarakat di wilayah timur Indonesia.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.