Perut mulas, mual, hingga diare massal kini membayangi meja makan siswa di berbagai penjuru sekolah. Rentetan kasus dugaan keracunan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali terjadi memaksa Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, angkat bicara.
Ia menuntut Badan Gizi Nasional (BGN) segera membongkar dan membenahi total sistem pengawasan keamanan pangan sebelum jumlah korban bertambah lebih banyak.
Edy menegaskan, persoalan ini sudah melampaui batas insiden kebetulan. Baginya, pola kejadian yang berulang di banyak daerah merupakan sinyal bahaya bahwa ada keropos pada fondasi sistem pengendalian mutu.
Ia tidak ingin BGN terus bersikap defensif atau menganggap tiap laporan keracunan sebagai peristiwa terpisah. Bagi politisi PDI Perjuangan ini, sistem pengawasan yang ada saat ini terbukti gagal menjamin keamanan piring-piring makanan yang disajikan ke ribuan anak sekolah.
“Kalau kasus keracunan terus berulang di berbagai daerah, berarti kita perlu melihat persoalan ini secara fundamental. Jangan hanya melihatnya sebagai kejadian per kejadian. Harus dicari di mana titik lemah sistem pengawasan dan pengendalian keamanan pangan MBG,” ujar Edy pada Rabu (9/9/2026).
Jejak Kasus yang Meluas
Keresahan Edy bukan tanpa alasan. Data di lapangan memang mengkhawatirkan. Dalam beberapa waktu terakhir, laporan dugaan keracunan akibat konsumsi makanan dari program MBG bergulir bak bola salju. Kejadian merembet dari Sidoarjo, Rembang, Agam, Bener Meriah, hingga ke Tana Toraja.
Ratusan anak didik tumbang secara bersamaan setelah menyantap menu yang seharusnya menjadi sumber nutrisi utama mereka di sekolah.
Salah satu titik yang paling memprihatinkan terjadi di Rembang. Catatan menunjukkan ada 777 murid dan guru di SMAN 1 Lasem yang mengalami gejala keracunan. Tak berselang lama, nasib serupa menimpa MAN 2 Rembang.
Sekitar 200 siswa dan tujuh orang guru di sana mendadak mengalami muntah serta diare hebat usai jam makan siang. Rentetan angka yang tidak kecil itu pun menjadi alarm keras bagi pengelola program di lapangan.
Banyaknya insiden di wilayah berbeda mengisyaratkan bahwa risiko kontaminasi makanan tidak mengenal batas geografis. Hal ini mencerminkan adanya standarisasi yang belum seragam atau pengawasan yang kendur di tingkat satuan pelayanan gizi.
Program yang digadang-gadang mampu memperbaiki gizi nasional justru kini menanggung beban kepercayaan publik yang terus merosot akibat buruknya manajemen logistik serta higienitas pangan.
Audit Menyeluruh Jadi Harga Mati
Edy mendesak agar BGN tidak lagi berpangku tangan. Audit secara menyeluruh kini menjadi harga mati. Menurutnya, pembenahan harus mencakup rantai pasok yang paling dasar. Mulai dari pemilihan bahan baku di pasar atau pemasok, proses pengolahan di dapur, hingga protokol penyajian makanan di sekolah. Semua tahapan tersebut harus dipastikan steril dan memenuhi standar kesehatan yang ketat.
Program MBG adalah proyek besar dengan skala distribusi yang sangat masif. Jika prosedur operasional standar tidak diawasi dengan kacamata kuda, maka setiap kelalaian kecil akan berdampak pada kesehatan massal.
Selama mekanisme quality control dan food safety hanya menjadi sekadar tulisan di atas kertas tanpa implementasi yang disiplin, risiko keracunan akan terus membayangi anak-anak kita setiap harinya.
Pihak BGN saat ini berada di bawah tekanan besar untuk segera menunjukkan perbaikan nyata di lapangan. Publik sedang menunggu langkah konkret, bukan sekadar janji perbaikan sistem. Langkah cepat untuk meninjau kembali seluruh mitra penyedia makanan menjadi ujian kredibilitas bagi lembaga tersebut untuk menjaga keberlangsungan program MBG agar tidak berakhir menjadi bencana kesehatan nasional.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.