JAKARTA — Kepercayaan publik warga Amerika Serikat terhadap informasi dari pemerintah federal turun lagi, dengan sekitar 6 dari 10 orang dewasa mengatakan mereka hanya sedikit atau sama sekali tidak percaya pada informasi pemerintah soal banyak isu besar.
Survei baru dari The Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research dan USA Facts menunjukkan kecurigaan itu kini merambah pemilu, politik, urusan luar negeri, hingga lingkungan.
Dampaknya bukan cuma soal opini. Menjelang pemilu paruh waktu 2026, hanya 34% orang dewasa AS yang percaya sertifikasi hasil pemilu oleh pemerintah “a great deal” atau “quite a bit”, turun dari 40% pada 2024.
Kepercayaan publik menurun di hampir semua isu
Temuan itu menggambarkan perubahan yang makin lebar sejak 2024.
Survei yang sama menyebut tingkat ketidakpercayaan terhadap informasi pemerintah federal sudah lebih tinggi dibanding akhir masa jabatan pertama Presiden Donald Trump, dan tren ini ikut menyorot bagaimana upaya Trump membongkar sebagian birokrasi federal belakangan memengaruhi keyakinan publik terhadap cabang eksekutif, terutama di kalangan Demokrat.
Dalam survei tersebut, mayoritas responden menyatakan kurang atau tidak percaya pada informasi pemerintah federal soal lingkungan, urusan luar negeri, pemilu dan politik, aborsi, serta imigrasi. Sikap serupa juga terlihat pada pendidikan. Angkanya naik dari 37% pada 2019 menjadi 53% sekarang, termasuk lonjakan 9 poin persentase dalam satu tahun terakhir.
Polarisasi makin tajam di bawah Trump dan Biden
Perbedaan sikap antara Partai Demokrat dan Partai Republik juga jauh lebih lebar daripada saat masa jabatan pertama Trump. Pola ini mulai tampak pada masa Presiden Joe Biden, ketika Demokrat cenderung lebih percaya pada informasi pemerintah dan Republik justru makin curiga. Begitu Trump kembali ke Gedung Putih, arah ketidakpercayaan itu berbalik lagi.
Di antara Demokrat, 61% kini punya tingkat kepercayaan rendah terhadap informasi soal anggaran federal, dibanding 42% dari Republik. Untuk isu kejahatan, 60% Demokrat menyatakan kepercayaan rendah, sementara di kubu Republik angkanya 32%.
Independen juga ikut berubah. Mereka menjadi lebih tidak percaya pada masa Biden dan tidak banyak bergeser saat Trump kembali berkuasa. Satu-satunya isu yang tidak menunjukkan jurang partisan besar adalah rekomendasi dan keamanan vaksinasi. Sekitar 6 dari 10 Demokrat, Republik, dan independen sama-sama mengatakan hanya sedikit atau tidak percaya pada informasi federal di topik itu.
Shannon Ingram, Demokrat berusia 46 tahun dari Maryland, mengatakan ia kesulitan percaya pada pesan pemerintah yang terus berubah. “It’s pretty hard to trust anything that’s being communicated,” kata dia.
Ia menyinggung perubahan anjuran kesehatan sebagai contoh informasi pemerintah yang menurutnya “questionable”. “There is a significant amount of bias, and it comes from the people who are authoring the content,” ujarnya.
Data pemerintah ikut jadi sorotan
Survei ini datang setelah satu setengah tahun gejolak di cabang eksekutif. Trump mulai membongkar bagian penting birokrasi federal tak lama setelah kembali ke Gedung Putih, dengan mendorong akhir program lama dan menutup sejumlah lembaga. Sejak itu, ribuan pegawai federal dipecat atau meninggalkan jabatan mereka.
Pengurangan itu memangkas jumlah ahli statistik pemerintah secara signifikan. Para pakar yang dikutip dalam bahan memperingatkan ada risiko terhadap kualitas data.
Di saat yang sama, perubahan regulasi dan anjuran juga memicu pergeseran kebijakan yang tajam, termasuk soal vaksinasi dan langkah Environmental Protection Agency yang mencabut temuan ilmiah yang selama lebih dari satu dekade menjadi dasar aksi pemerintah melawan perubahan iklim.
Jeremy Cove, Republik berusia 44 tahun dari Missouri, mengatakan ia masih percaya pada panduan pemerintahan Trump untuk urusan seperti vaksin. Tapi ia tidak setuju dengan klaim bahwa perubahan iklim tidak terjadi atau bahwa manusia tidak ikut menyebabkannya.
“I love Trump; I voted for Trump, but some of the things he’s doing just makes me distrust more,” kata dia. Ia juga menyinggung rencana mengganti nama Lake Ontario menjadi Lake America. “Stuff like renaming Lake Ontario to Lake America, it just makes you think about what their priorities are.
Then you realize it’s not what it should be, which in turn, makes you distrust even more,” ujarnya.
Di sisi lain, Larry Haith, Republik berusia 76 tahun dari Idaho, mengatakan ia cenderung percaya pada pemerintah federal, meski penilaiannya bisa berubah tergantung pemerintahan yang berkuasa. “Generally speaking, I’ve got more confidence in the federal government today than I’ve had in years,” katanya.
Menjelang 2026, kekhawatiran publik soal hasil pemilu juga masih tinggi.
Hampir setengah orang dewasa AS sangat atau sangat khawatir pemerintah federal akan mendiskreditkan hasil pemilu, mengutak-atik hasilnya, atau menekan pejabat pemilu negara bagian agar mengubah cara mereka mensertifikasi atau melaporkan hasil.
Dalam beberapa bulan terakhir, Trump kembali mengulang tuduhan kecurangan massal pada pemilu 2020, mendorong pembatasan baru untuk surat suara lewat pos, serta mendesak Kongres menerapkan syarat bukti kewarganegaraan untuk registrasi dan pemungutan suara.
Di saat yang sama, sedikit warga yang percaya pada informasi dari kampanye politik. Sekitar 1 dari 10 orang dewasa AS mengatakan Partai Demokrat dipercaya, sementara kepercayaan pada Partai Republik juga rendah.
Ketika pesan politik, hasil pemilu, dan data pemerintah sama-sama dipandang dengan curiga, ruang untuk keyakinan publik makin sempit. Dan survei ini menunjukkan jurangnya belum dekat tertutup.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.