Sabtu, 12 September 2026 WIB
BREAKING
HUKUM KRIMINAL

Soroti Kematian Serda AMF, DPR: Tradisi Kekerasan Senior di TNI Harus Dihilangkan!

Markas TNI Angkatan Udara Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta tempat insiden kematian Serda AMF terjadi
Kompleks Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, menjadi lokasi meninggalnya Serda Ahmad Muzammil Farisa (AMF) diduga akibat penganiayaan dari senior. (Ilustrasi: AI)

Tewasnya Serda Ahmad Muzammil Farisa (AMF) di Mess Psikologi Galaksi, Kompleks Lanud Halim Perdanakusuma, menyisakan luka mendalam sekaligus alarm keras bagi institusi militer Indonesia. Prajurit muda itu mengembuskan napas terakhir pada Kamis, 10 September 2026, setelah diduga menjadi korban kekerasan brutal yang dilakukan oleh empat rekan sejawatnya sendiri di lingkungan TNI Angkatan Udara.

Kematian tragis Serda AMF langsung menarik perhatian tajam dari Senayan. Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, angkat bicara dengan nada keras. Ia mendesak para petinggi militer untuk segera memutus rantai kekerasan yang selama ini kerap berlindung di balik kedok senioritas.

Bagi Hasanuddin, tidak ada ruang bagi tindakan represif yang berujung maut di dalam organisasi yang seharusnya menjunjung tinggi kehormatan dan disiplin.

Budaya Senioritas yang Mematikan

Bagi politisi PDI Perjuangan ini, tradisi buruk yang membiarkan senior atau atasan bertindak semena-mena kepada bawahan wajib dikubur dalam-dalam. Ia menegaskan bahwa praktik kekerasan di lingkungan militer sama sekali tidak mencerminkan jiwa prajurit sejati. Sebaliknya, hal itu justru menunjukkan keroposnya pengawasan di tingkat unit terkecil.

“Tradisi buruk berupa tindakan kekerasan yang dilakukan oleh senior, komandan, atasan maupun senior atasan di lingkungan TNI harus segera dihilangkan,” tegas Hasanuddin dalam keterangan resminya, Sabtu, 12 September 2026. Ia tidak ingin tragedi yang menimpa Serda AMF dianggap sebagai kecelakaan biasa. Menurutnya, ini adalah sinyal bahaya akan adanya pola pembinaan yang keliru.

Prajurit memang dilatih untuk bertempur. Mereka ditempa untuk menghadapi situasi ekstrem di medan tugas yang berbahaya. Namun, Hasanuddin mengingatkan bahwa persiapan fisik yang berat harus dibarengi dengan fondasi moral yang kokoh.

Kohesivitas atau rasa kesetiakawanan di antara sesama prajurit adalah kunci utama keberhasilan sebuah misi. Tanpa itu, sebuah unit hanyalah sekumpulan orang yang rentan berkonflik.

“Yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan menjalankan komando dan perintah, tetapi juga kerja sama yang baik antarprajurit,” tambah dia. Suasana mencekam yang dipicu oleh tekanan berlebih dari senior hanya akan menciptakan ketegangan laten. Jika terus dibiarkan, bom waktu ini akan meledak dalam bentuk tindakan penganiayaan yang fatal, persis seperti yang dialami Serda AMF di mess militer tersebut.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda