Si jago merah melalap kawasan puncak Setampol Torean di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Selasa malam lalu. Kobaran api terpantau pertama kali muncul di area tersebut, memaksa petugas Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) segera merespons laporan yang masuk tepat pukul 18.50 WITA.
Lokasi titik api berada di luar jalur pendakian utama. Mengingat medan yang curam dan kondisi gelap total di malam hari, tim gabungan memutuskan menunda pergerakan demi keselamatan personel. Barulah saat fajar menyingsing di hari Rabu, tim pemadam mulai mendaki menuju titik koordinat untuk menjinakkan si jago merah sekaligus menghitung luasan lahan yang terdampak.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardi, mengonfirmasi bahwa pasukannya saat ini sudah berada di lapangan. Mereka berjibaku memutus jalur api agar tidak merambat lebih jauh ke area yang lebih luas. Hingga berita ini diturunkan, petugas masih melakukan penilaian mendalam mengenai luasan area terbakar, vegetasi yang rusak, hingga kemungkinan penyebab munculnya titik api.
Risiko Kemarau Panjang
Musim kemarau yang sedang memuncak saat ini menjadi momok bagi kawasan hutan lindung di NTB. Angin kencang dan tumpukan vegetasi kering di lereng gunung membuat percikan api kecil saja bisa berubah menjadi bencana besar dalam hitungan menit. Vegetasi di ketinggian seperti kawasan Setampol memang sangat rentan terbakar saat curah hujan rendah.
Pihak pengelola taman nasional pun langsung mengeluarkan peringatan keras bagi siapa pun yang beraktivitas di kawasan konservasi tersebut. Astekita Ardi menegaskan bahwa kelalaian manusia sering kali menjadi pemantik utama kebakaran lahan di area pendakian. Puntung rokok yang belum mati total atau pembakaran sampah sisa logistik pendaki yang tidak diawasi adalah musuh utama mereka sekarang.
“Kami mengimbau para pendaki tidak membuang puntung rokok sembarangan atau melakukan pembakaran sampah yang dapat menyebabkan kebakaran lahan,” tegas Ardi. Baginya, imbauan ini bukan sekadar formalitas. Medan di Gunung Rinjani sangat sulit dijangkau, sehingga membawa peralatan pemadam berat ke puncak adalah sebuah kemustahilan.
Aksesibilitas yang terbatas di kawasan terpencil membuat tim hanya bisa mengandalkan metode pemadaman manual. Alat-alat sederhana seperti gepyok atau sekat bakar menjadi senjata utama mereka di lapangan.
Topografi yang menantang, dengan jurang dan tebing curam, memaksa petugas bekerja ekstra hati-hati. Kelelahan fisik menjadi tantangan nyata bagi tim gabungan di bawah terik matahari yang menyengat.
Upaya Penyelamatan Ekosistem
Balai TNGR terus memantau pergerakan api secara real-time. Laporan dari petugas di garis depan masuk secara berkala ke pos komando untuk menentukan strategi lanjutan. Mereka ingin memastikan tidak ada titik api baru yang muncul di balik punggungan gunung yang belum terjangkau mata.
Kolaborasi antar satuan kerja di lingkup TNGR juga terus diperkuat. Fokus utama saat ini adalah melokalisasi api agar kerusakan pada ekosistem lindung bisa diminimalisir sedini mungkin. Mengingat nilai ekologis Rinjani yang tinggi bagi pasokan air di Pulau Lombok, upaya pengendalian kebakaran ini menjadi prioritas mutlak bagi otoritas setempat.
Bagi para pendaki, imbauan ini harus dianggap serius. Ketidakpedulian satu orang di puncak bisa menghilangkan ribuan hektar vegetasi yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh kembali. Pihak Balai TNGR menjanjikan bakal terus memperbarui informasi segera setelah tim lapangan kembali dengan data yang lebih akurat mengenai kondisi terakhir di puncak Setampol Torean.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.