Pergerakan mata uang di Asia pagi ini bervariasi. Rupiah menguat 0,11%, Peso Filipina 0,19-0,22%, Yuan China 0,02%, Yen Jepang 0,02-0,06%, dan Baht Thailand 0,04%. Sementara itu, Ringgit Malaysia melemah 0,03-0,04%, Dolar Singapura 0,01-0,05%, Won Korea 0,06-0,16%, dan Rupee India 0,5%. Mata uang maju seperti Euro, Poundsterling, dan Dolar Australia juga terpantau melemah terhadap dolar AS.
Berikut kurs di beberapa bank besar pada 2 Oktober 2026 pukul 09:07 WIB:
| Bank | Jenis Kurs | Beli | Jual |
|---|---|---|---|
| BCA (BBCA) | e-rate | Rp17.920 | Rp17.940 |
| TT Counter | Rp17.755 | Rp18.035 | |
| Bank Notes | Rp17.755 | Rp18.035 | |
| Mandiri (BMRI) | Special rate | Rp17.880 | Rp17.910 |
| TT Counter | Rp17.690 | Rp17.990 | |
| Bank Notes | Rp17.670 | Rp17.970 |
Kurs tengah Bank Indonesia (BI) sebagai acuan hari ini adalah Rp17.958 (jual), Rp17.780 (beli), dan Rp17.869 (tengah).
Dampak dan Proyeksi
Penguatan tipis rupiah ini masih belum cukup untuk mengurangi beban bagi importir. Nilai tukar di Rp17.900-an berarti biaya impor masih mahal, berpotensi mendorong kenaikan harga elektronik, bahan baku industri, kedelai, hingga gandum. Sebagai contoh, harga terigu Cakra Kembar hari ini sudah mencapai Rp11.490-Rp13.490 per kilogram. Bagi masyarakat yang ingin menukar dolar untuk kebutuhan seperti umrah atau studi di luar negeri, kurs bank notes di angka Rp18.035 masih terasa mahal.
Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini masih bergerak di level 5.986, turun 0,38%. Penguatan rupiah yang tipis belum berhasil menarik investor asing kembali. Investor asing masih mencatat net sell Rp240 miliar di saham-saham seperti BMRI, GOTO, dan BBRI.
Lukman Leong dari Doo Financial Futures memproyeksikan rupiah masih akan bergerak dalam rentang Rp17.900 – Rp18.000 per dolar AS hari ini, dengan volatilitas yang tinggi. Ia menambahkan bahwa rupiah cenderung tertekan seiring kenaikan harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mencatat bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) telah mereda signifikan. Pasar kini hanya memperkirakan probabilitas 25% untuk kenaikan 25 basis poin pada FOMC 27-28 Oktober, turun drastis dari 70% sepekan lalu. Hal ini menyusul pernyataan Wakil Ketua Fed Philip Jefferson dan Presiden Fed New York John Williams yang menyarankan untuk tidak terburu-buru dan menunggu data tambahan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.