Kamis, 8 Oktober 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Pasar Nangka Bungur Sepi, Pembeli Pilih Belanja di Pinggir Jalan

Pasar Nangka Bungur dengan kios lengang dan lapak ramai di pinggir jalan
Lapak pinggir jalan lebih mudah dijangkau pembeli dibandingkan kios di dalam Pasar Nangka Bungur. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Dari jalan, Pasar Nangka Bungur masih tampak ramai oleh lapak dan kendaraan yang hilir mudik. Namun, pembeli lebih banyak berbelanja di pinggir jalan, sementara banyak kios di dalam pasar tutup dan lorong-lorongnya lengang.

Pantauan CNBC Indonesia di pasar yang berada di Kemayoran, Jakarta Pusat, menunjukkan hanya sekitar seperempat kios di dalam yang terlihat buka. Sejumlah pedagang mengatakan akses yang sulit dan area parkir sempit membuat pembeli enggan masuk.

Perubahan itu membuat kegiatan jual-beli bergeser ke tepian jalan. Pembeli dapat berhenti di dekat lapak tanpa mencari parkir atau turun dari motor, sedangkan ruang bagi kendaraan dan pejalan kaki di sekitar pasar menjadi semakin terbatas.

Parkir dan akses jadi keluhan pedagang

Pasar Nangka Bungur diresmikan pada 29 September 2016 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Ketika dibuka, pasar seluas 1.523 meter persegi itu memiliki 163 tempat usaha, terdiri atas 127 tempat usaha dan 36 los.

Pedagang kala itu ramai mengisi kios dan los. Pasar yang lebih modern dan bersih juga menarik pembeli. Kini, kondisi bagian dalam berbeda dari suasana di tepi jalan yang masih dipenuhi lapak.

Sugi, nama samaran seorang pedagang yang berjualan di luar pasar, menyebut parkir yang sempit membuat pembeli memilih tempat yang lebih mudah dijangkau. Ia mengatakan keadaan sepi itu sudah berlangsung lama dan pedagang makin banyak berjualan di pinggir jalan.

“Di dalam sepi. Parkirnya susah, sempit, jadi nggak ada yang datang. Sepi, dagangan nggak laku,” kata Sugi kepada CNBC Indonesia.

Menurut Sugi, keputusan berjualan di luar bukan karena harga sewa kios. Ia memilih lokasi yang lebih ramai dijangkau pembeli, sebab kios yang sepi membuat dagangan sulit laku.

Keluhan serupa disampaikan Tono, nama samaran pedagang lain yang berjualan di luar. Ia menduga sebagian pembeli enggan masuk karena repot mencari parkir atau harus turun dari motor. Dari pinggir jalan, mereka bisa berhenti sebentar, membeli barang, lalu melanjutkan perjalanan.

Tono menggambarkan kebiasaan itu seperti layanan pesan cepat dari kendaraan. “Iya, kayak lagi beli makan di McDonald tuh, sambil nyetir belanjanya,” ujarnya.

Lapak pinggir jalan lebih mudah dijangkau

Pilihan pembeli itu punya dampak langsung pada aktivitas pasar. Pedagang di luar mendapat akses lebih dekat ke orang yang melintas, sementara bagian dalam kehilangan sebagian lalu lintas pembeli. Bagi konsumen, belanja dari motor terasa praktis, tetapi kendaraan yang berhenti di tepi jalan juga mempersempit ruang gerak dan dapat mengganggu pejalan kaki.

Perpindahan aktivitas itu bukan berarti semua pedagang meninggalkan kios. Reni, nama samaran pedagang yang masih bertahan di dalam, mengakui bagian pasar tempatnya berjualan sepi. Ia memilih tetap membuka kios karena bisa menyimpan barang di sana dan tidak perlu membereskan lapak saat pulang.

“Iya sepi, gini sepi banget ya, kayak nggak ada kehidupan (aktivitas jual-beli),” kata Reni.

Reni mengatakan kios juga memberinya keleluasaan untuk berjualan hingga sore. Ia menilai masih ada pembeli yang mencari barang pada siang menjelang sore, setelah sebagian pedagang di luar menutup lapak. Meski omzetnya mungkin tidak sebesar pedagang pinggir jalan, ia tetap melihat peluang pada waktu tersebut.

“Ya mungkin omset saya nggak sebesar yang dagang di luar. Tapi kan kalau misal yang di luar sudah tutup, kayak orang siang ke sore gitu nyari barang, saya masih buka,” katanya.

Gambaran Pasar Nangka Bungur memperlihatkan bagaimana kemudahan menjangkau pedagang ikut menentukan pilihan tempat belanja. Untuk pedagang yang tetap berada di dalam, kios berfungsi sekaligus sebagai tempat menyimpan barang; bagi pembeli, lapak tepi jalan menawarkan transaksi yang lebih cepat. Namun, kendaraan yang berhenti untuk berbelanja terus membatasi ruang jalan di sekitar pasar.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda