Sehari setelah serangan mematikan pertama, Bandara King Khalid kembali diserang pada Minggu sore, 11 Oktober 2026, bersamaan dengan Bandara King Fahd di Dammam. Serangan kedua ini menewaskan 1 orang warga Pakistan yang tinggal di Saudi dan melukai 11 lainnya, menurut GACA. Akibatnya, total korban tewas dari dua serangan mencapai 14 orang (13+1) dan 320 orang luka-luka (309+11).
Koalisi Saudi yang dipimpin Arab Saudi, melalui Juru Bicara Mayor Jenderal Turki Al Malki, menyatakan serangan itu merupakan “serangan teroris pengecut oleh milisi Houthi” dan “kejahatan perang penuh berdasarkan Hukum Humaniter Internasional.” Koalisi berjanji akan merespons “tegas dan terukur sesuai hukum internasional.”
Sementara itu, Juru Bicara Houthi Yaman, Yahya Saree, pada Minggu, 11 Oktober, mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka juga mengklaim menyerang King Fahd Airport Dammam dan dua fasilitas Saudi Aramco. Houthi memperingatkan maskapai penerbangan dan pelancong untuk menjauhi bandara-bandara Saudi, menyatakan mereka “zona operasi militer,” kecuali bandara Mekkah dan Madinah yang disebut aman.
Dampak dan Kondisi Warga Negara Indonesia
Serangan ini memicu kecaman dari berbagai negara, termasuk PBB, Rusia, Australia, Bangladesh, India, dan Amerika Serikat. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan “sangat terkejut dan mengutuk keras serangan mematikan oleh Houthi pada Sabtu lalu.” Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan, “Kita bisa bertindak sangat cepat,” dan AS telah mengirim personel intelijen ke Saudi.
Bagi Indonesia, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh pada Minggu, 11 Oktober 2026, memastikan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban meninggal. KBRI masih mengonfirmasi kemungkinan adanya WNI di antara korban luka. Direktur Jenderal Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Henny, mengimbau 581.000 WNI di Arab Saudi untuk tetap waspada dan menghindari area Bandara King Khalid, serta mengecek status penerbangan mereka ke maskapai terkait. KBRI Riyadh juga menyediakan nomor darurat +966 569173990 untuk bantuan.
Penerbangan maskapai besar seperti Lufthansa, Emirates, dan Kuwait Airways membatalkan jadwal mereka. Kedutaan Besar Inggris, AS, dan Kanada juga mengeluarkan larangan bepergian ke Bandara King Khalid, diikuti peringatan dari FAA.
Meskipun eskalasi ini, konferensi investasi dan energi besar yang akan datang di Riyadh akan tetap berjalan, dengan penyelenggara menjamin keamanan. Ancaman Houthi pada 5 Oktober sebelumnya menyatakan jika Bandara Sanaa tidak dapat digunakan untuk pendaratan, maka bandara Saudi juga tidak akan diizinkan beroperasi, mengisyaratkan “blokade demi blokade.” Kondisi ini turut memicu kekhawatiran di pasar global, dengan harga minyak Brent mencapai US$102,70 dan WTI US$90,50 pada 12 Oktober, di tengah kekhawatiran pasokan dan pengiriman melalui Selat Hormuz akan terganggu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.