Menjelang keputusan soal demutualisasi, pasar saham Indonesia sedang tertekan dan investor menimbang arah reformasi bursa. Danantara menyatakan minat menjadi pemegang saham BEI, sementara RUPSLB pada Rabu (28/10) menjadi panggung penting untuk memperjelas perubahan kepemilikan tersebut.
IHSG ditutup turun 1,99% ke level 5.266 pada Selasa (27/10), sehari sebelum rapat. Namun, analis menilai pelemahan indeks tidak bisa dikaitkan begitu saja dengan rencana Danantara atau agenda RUPSLB, karena tekanan datang dari gabungan sentimen domestik dan eksternal.
Demutualisasi membuka pintu bagi Danantara
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bursa Efek Indonesia membahas rencana demutualisasi. Selama ini, saham BEI hanya dapat dimiliki anggota bursa. Setelah perubahan itu, perseorangan dan badan hukum Indonesia, baik anggota bursa maupun bukan, dapat menjadi pemegang saham.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik sebelumnya menyebut demutualisasi sebagai salah satu topik rapat. Kerangka kepemilikan pascademutualisasi telah diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 13 Tahun 2026 tentang Pemegang Saham Bursa Efek Indonesia.
Aturan itu secara khusus membuka ruang bagi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia untuk memiliki saham BEI. Ketentuan mengenai Danantara tercantum dalam Pasal 8 POJK Nomor 13/2026. CEO Danantara Rosan Roeslani sebelumnya memperkirakan porsi kepemilikan lembaganya dapat berada di kisaran 5% hingga 10% setelah demutualisasi.
Minat itu muncul ketika pelaku pasar menunggu rincian struktur kepemilikan dan tata kelola bursa. Karena itu, yang diperhatikan bukan hanya berapa besar saham Danantara, tetapi juga bagaimana pemegang saham baru berperan tanpa mengaburkan independensi dan kredibilitas pengelolaan pasar.
IHSG melemah, tetapi penyebabnya berlapis
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan koreksi IHSG menjelang RUPSLB tidak semata-mata dipicu rapat. Ia menyebut kekhawatiran mengenai arus dana asing, ketidakpastian reformasi pasar modal, serta kejelasan kebijakan otoritas sebagai bagian dari tekanan yang dihadapi investor.
“Menjelang RUPSLB BEI, investor berpotensi mengambil sikap wait and see dan mengurangi eksposur risiko untuk sementara waktu,” ujar Nafan kepada Katadata, Selasa (27/10).
Menurut Nafan, ketidakjelasan tentang perubahan kepemilikan dan arah kebijakan dapat membuat pelaku pasar menahan keputusan. Namun, agenda RUPSLB dan rencana masuknya Danantara belum cukup untuk disebut sebagai penyebab tunggal penurunan indeks. Investor perlu membedakan reaksi terhadap agenda bursa dari koreksi yang dipengaruhi tekanan pasar lebih luas.
Laporan CNBC Indonesia juga menggambarkan pelemahan yang lebih dalam pada sesi perdagangan Selasa. Mengutip data perdagangan pukul 15.00 WIB, CNBC Indonesia mencatat IHSG berada di 5.211,28, turun 3,01%. Angka tersebut merupakan posisi pada waktu pengamatan intrahari, berbeda dari level penutupan 5.266 yang dicantumkan dalam bahan utama.
CNBC Indonesia menyebut tekanan besar terjadi pada sektor infrastruktur, yang turun 6%, disusul material dasar sebesar 3,5% dan teknologi sebesar 2,9%. Perbedaan waktu pencatatan menjelaskan mengapa angka IHSG dalam laporan intrahari tidak sama dengan angka penutupan perdagangan.
Pasar menunggu kepastian reformasi
Tekanan terhadap saham membuat pembahasan demutualisasi punya dampak langsung bagi investor. Kejelasan aturan dan tata kelola dapat membantu pasar menilai apakah perubahan pemegang saham memperkuat transparansi, atau justru menambah ketidakpastian. Bagi perusahaan yang mencari pendanaan di bursa, kredibilitas penyelenggara juga menjadi bagian penting dari kepercayaan investor.
Nafan menilai arah IHSG selanjutnya tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki saham BEI. Menurut dia, hasil reformasi perlu terlihat dalam peningkatan transparansi, kredibilitas, dan kepercayaan investor, terutama investor asing.
Jika RUPSLB menghasilkan kejelasan regulasi dan memperkuat tata kelola, perubahan itu berpotensi menjadi sentimen positif dalam jangka menengah. Namun, ketidakpastian mengenai evaluasi MSCI dan arus dana asing masih dapat menjaga volatilitas pasar tetap tinggi.
Danantara sendiri telah beberapa kali menyampaikan pandangan bahwa valuasi saham domestik menarik. Lima belas hari sebelum RUPSLB, Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir mengatakan lembaga itu mempertimbangkan peningkatan investasi di dalam negeri, termasuk kemungkinan menjadi pemegang saham BEI setelah demutualisasi.
“Dan juga posture kita dalam berinvestasi mungkin akan lebih lagi ke domestik. Contohnya, kita akan mungkin lebih berinvestasi, tentu tadi bicara soal demutualisasi,” kata Pandu kepada Katadata di Bangkok, Selasa (13/10).
Pandu saat itu menyebut rasio harga saham terhadap laba bersih atau PER sekitar sembilan kali dan menilainya sebagai level termurah dalam 20 tahun terakhir. Ia tidak menyebut besaran kepemilikan yang diincar Danantara. Ia juga mengatakan pemegang saham perlu memiliki visi yang sejalan, sementara manajemen bursa bertugas menerjemahkan visi itu menjadi langkah yang tepat.
Pada Jumat (16/10), Rosan menyampaikan bahwa koreksi pasar setelah MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market dapat membuka peluang investasi. Ia menggambarkan investasi Danantara sebagai penempatan modal jangka panjang, bukan transaksi jangka pendek.
“Kami meyakini, melihat dan menganalisis bahwa fundamental dari perusahaan-perusahaan kita ini sangat baik. Sangat baik, saya tekankan,” kata Rosan di Gedung BEI, Jumat (16/10).
Rosan juga menilai sejumlah saham masih diperdagangkan di bawah satu kali nilai buku atau PBV dan di bawah median valuasi perusahaan sejenis di industri. Untuk arah pasar berikutnya, perhatian investor tertuju pada keputusan RUPSLB dan rincian tata kelola bursa yang menyertainya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.