BALI — Co-firing hidrogen dan amonia berpotensi mengurangi konsumsi bahan bakar fosil di pembangkit, sekaligus meningkatkan efisiensi. PT PLN Indonesia Power (PLN IP) menguji dua teknologi itu pada pembangkit gas dan PLTU untuk mendukung dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan.
Uji hidrogen berlangsung di PLTDG Pesanggaran, sedangkan uji amonia dilakukan di PLTU Labuan. Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta menyampaikan pengujian tersebut menjadi bagian dari upaya mencari alternatif bahan bakar dan mengoptimalkan teknologi pembangkitan.
“Pengujian co-firing hidrogen dan amonia menjadi langkah PLN Indonesia Power dalam mengembangkan alternatif bahan bakar yang berpotensi menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi pembangkitan,” kata Bernadus melalui keterangan resmi, Rabu (28/10).
Co-firing hidrogen di PLTDG Pesanggaran
Di PLTDG Pesanggaran, hidrogen dicampurkan dengan gas alam sebagai bahan bakar mesin pembangkit. Campuran ini ditujukan untuk menggantikan sebagian penggunaan gas alam, bukan mengubah seluruh bahan bakar mesin sekaligus.
PLN IP telah menjalankan tiga kali pengujian dengan rasio hidrogen yang meningkat. Pada 2022, rasionya 2 persen. Angka itu naik menjadi 7 persen pada 2024, lalu mencapai 23 persen pada 2025.
Menurut hasil pengujian yang disampaikan perusahaan, co-firing hidrogen berpotensi meningkatkan efisiensi mesin hingga 5 persen dan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil hingga 17 persen. PLN IP juga menyebut potensi penurunan emisi karbon sebesar 9.600 ton CO₂ per tahun.
Angka tersebut menunjukkan alasan pengujian campuran bahan bakar menarik bagi pengelola pembangkit: sebagian bahan bakar fosil dapat disubstitusi tanpa mengabaikan kebutuhan menjaga kinerja mesin. Namun, hasil uji tetap perlu dibaca sebagai potensi, sementara penerapan lebih luas bergantung pada evaluasi teknis dan keselamatan.
Uji amonia dan pengurangan batu bara
Di PLTU Labuan, amonia dicampurkan ke batu bara yang dibakar di boiler. Tujuannya mengurangi konsumsi batu bara, dengan pengujian yang menggunakan rasio campuran amonia sebesar 1 persen.
PLN IP menyatakan pengujian itu menunjukkan potensi perbaikan efisiensi PLTU hingga 1,3 persen. Konsumsi batu bara diperkirakan dapat dihemat sekitar 19.700 ton per tahun, sementara emisi karbon berpotensi turun hingga 1,8 persen. Perusahaan juga menyebut potensi pengurangan emisi tahunan PLTU hingga 35.000 ton.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.