JAKARTA — Perubahan pengadaan impor energi menempatkan Lemigas sebagai pintu baru bagi pasokan minyak mentah, BBM, dan LPG untuk Pertamina. Bagi perusahaan pelat merah itu, skema baru berarti proses pengadaan tak lagi sepenuhnya dijalankan langsung seperti sebelumnya.
Pemerintah menetapkan perubahan melalui Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2026. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan BLU Lemigas akan melakukan pengadaan, lalu menjalin kerja sama dengan pemerintah maupun badan usaha, termasuk Pertamina.
“Dalam Perpres 107 yang melakukan pengadaan adalah BLU. Setelah itu, BLU akan melakukan G2G, G2B dengan Pertamina. Jadi Pertamina akan membeli dari BLU,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM pada Senin (26/10).
Profil Lemigas dan peran baru dalam impor BBM
Lemigas bukan lembaga yang baru dibentuk untuk menjalankan kebijakan tersebut. Nama Lemigas merupakan singkatan dari Lembaga Minyak dan Gas Bumi. Lembaga pemerintah ini berdiri pada 11 Juni 1965 untuk mendukung industri migas melalui penelitian, pengembangan, dan pendidikan.
Perubahan skema pengadaan membawa lembaga yang selama ini dikenal lewat layanan teknis ke peran baru dalam rantai pasok energi. Sebelumnya, Pertamina menjalankan pengadaan impor melalui transaksi antarbadan usaha atau business-to-business (B2B).
Kini pemerintah mengarahkan skema ke kerja sama antarpemerintah (G2G) dan pemerintah dengan badan usaha (G2B), dengan BLU Lemigas sebagai pelaksana pengadaan.
Bahlil menyebut kebijakan itu ditujukan untuk mengatasi kendala tender impor yang dijalankan Pertamina. Proses lelang dapat memakan waktu, tetapi hasilnya belum tentu menjamin pemasok tetap mengirimkan komoditas yang sudah disepakati.
Dalam mekanisme sebelumnya, pemasok dapat membatalkan kesepakatan jika menerima tawaran harga lebih tinggi dari pembeli lain. Risiko itu membuat Pertamina bisa kehilangan pasokan meski telah menyelesaikan tender dan menyetujui harga.
Pengadaan Lemigas masih membutuhkan transisi
Pengalihan tanggung jawab tidak berarti Pertamina kehilangan seluruh ruang untuk mengimpor secara langsung. Dalam kondisi tertentu, perusahaan masih dapat berkomunikasi untuk melakukan impor sendiri, terutama saat cadangan energi nasional sangat rendah atau terjadi gangguan geopolitik di negara pemasok.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.