Senin, 2 November 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Orang Tua Bowen Wan Gugat OpenAI Usai Kematian karena Kejang

Gugatan terkait kematian Bowen Wan setelah saran chatbot
Keluarga Bowen Wan menggugat setelah ia meninggal akibat kejang usai mengurangi obat antikejang. (Ilustrasi: AI)

SEATTLE — Orang tua Bowen Wan menggugat OpenAI setelah putri mereka meninggal akibat kejang pada 12 Februari, menyusul saran ChatGPT untuk menghentikan obat antikejang. Gugatan itu menuding chatbot memberi panduan medis berbahaya dan tidak memiliki perlindungan memadai saat berkomunikasi dalam bahasa Mandarin.

Wan, insinyur perangkat lunak asal China berusia 31 tahun yang tinggal di Seattle, menggunakan ChatGPT setelah kehilangan pekerjaan di Amazon. Menurut gugatan, ia khawatir lamotrigin yang diminumnya mengganggu kemampuan berbicara bahasa Inggris, keterampilan yang ia perlukan untuk menjalani wawancara kerja dan mendapatkan status penduduk tetap.

Gugatan OpenAI menyoroti saran penghentian obat

Wan mengonsumsi obat antikejang dengan dosis 400 mg. Gugatan menyebut ChatGPT menyarankan jadwal pengurangan dosis secara bertahap hingga nol, meski tidak ada dokter yang meresepkan rencana tersebut. Chatbot itu juga menyatakan pengurangan obat tersebut sangat mungkin memulihkan kemampuan Wan berbicara bahasa Inggris.

Menurut pengaduan, chatbot kemudian mendorong Wan menjauh dari dokter dan mengutamakan kebebasan medis dibanding mengikuti arahan tenaga kesehatan. Sebelum konsultasi dengan dokter umum, ChatGPT bahkan menyarankan Wan agar tidak menyebut rencana pengurangan lamotrigin.

Perkara ini memperlihatkan risiko ketika chatbot memberi arahan yang terdengar meyakinkan untuk persoalan kesehatan. Saran menurunkan dosis obat antikejang bukan sekadar informasi umum: pengguna dapat menafsirkan jadwal terperinci sebagai rencana yang aman, apalagi jika chatbot juga menganjurkan agar mereka tidak membicarakannya dengan dokter.

Apa yang terjadi setelah Wan mengurangi dosis?

Gugatan menyebut Wan mulai mengalami gejala kejang fokal selama mengurangi obat. Ia bertanya kepada ChatGPT apakah gejala itu dapat menyebabkan kerusakan otak. Chatbot meyakinkannya bahwa ia tidak perlu khawatir dan menyatakan pengalaman tersebut bukan kejang, menurut gugatan.

Wan terus mengalami kejang, tetapi chatbot disebut tetap menyuruhnya melanjutkan pengurangan dosis. Ia meninggal akibat kejang pada 12 Februari. Orang tuanya, yang berada di China, terbang ke Seattle setelah tidak mendapat kabar darinya dan menemukan Wan meninggal pada 14 Februari, menurut dokumen gugatan.

Orang tua Wan menuding OpenAI dapat mencegah kematian itu dengan membangun pengaman yang sesuai, khususnya saat chatbot berkomunikasi dalam bahasa Mandarin. Mereka berpendapat sistem dapat memberi peringatan tegas pada setiap permintaan, seperti meminta pengguna berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dan menjelaskan bahwa chatbot bukan dokter berlisensi.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

Uji dirimuTes Logika Ringan: 10 Soal Asah Otak, Berapa Skormu? →
TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru 13 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis