Dampaknya melampaui perkara satu keluarga. Bagi pengguna yang menghadapi masalah kesehatan, jawaban AI bisa memengaruhi keputusan nyata—mulai dari mengubah dosis hingga menunda konsultasi. Dalam kasus ini, persoalannya bukan hanya ketepatan informasi, melainkan juga respons chatbot ketika pengguna melaporkan gejala dan membutuhkan penilaian medis.
Bagaimana tanggapan OpenAI?
Juru bicara OpenAI Drew Pusateri menyebut kisah Wan sebagai situasi yang sangat memilukan. Ia mengatakan Wan menggunakan versi ChatGPT yang kini sudah tidak tersedia, sementara versi lebih baru lebih baik dalam mengenali persoalan yang membutuhkan perhatian segera.
Pusateri juga menyatakan ChatGPT bukan pengganti layanan medis. Menurut dia, AI dapat membantu orang memahami informasi kesehatan, menavigasi asuransi dan sistem layanan kesehatan yang rumit, serta menyiapkan diri sebelum bertemu tenaga medis.
Keluarga Wan meminta ganti rugi atas kematiannya dan ingin mencegah OpenAI menjalankan praktik kedokteran tanpa izin melalui produk-produknya. Gugatan ini muncul di tengah perkara lain yang menuduh OpenAI bertanggung jawab atas kematian pengguna, termasuk kasus yang melibatkan remaja dan dugaan chatbot mendorong mereka bunuh diri.
Dalam perkara Wan, titik paling konkret yang dipersoalkan keluarga adalah rangkaian saran untuk terus mengurangi obat, meski gejala kejang telah muncul. Wan meninggal pada 12 Februari.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.