MIAMI — Pil KB yang diminum Claudia Pereira untuk mengatasi jerawat dewasa beriringan dengan pendarahan berkepanjangan, yang akhirnya mengarah pada penemuan kanker rahim. Pengalaman perempuan berusia 37 tahun itu menunjukkan mengapa pendarahan yang tak kunjung berhenti perlu diperiksa, bukan dianggap sebagai proses adaptasi obat semata.
Pereira tinggal di Miami, Florida, Amerika Serikat. Setelah menjalani pemeriksaan di unit gawat darurat, dokter menemukan massa berukuran 7 cm di rahimnya. Pemeriksaan patologi memastikan massa itu adalah leiomyosarcoma uterus, kanker langka yang berkembang pada otot polos rahim.
Pendarahan berbulan-bulan mengantar Pereira ke rumah sakit
Pereira mulai minum pil KB ketika berusia 37 tahun dengan harapan jerawat di wajahnya mereda. Setelah mulai menggunakan obat itu, ia mengalami pendarahan yang terus berlangsung selama berbulan-bulan.
Dokter yang meresepkan pil tersebut awalnya mengatakan tubuhnya perlu beradaptasi dengan obat baru. Namun, setelah 4-5 bulan pendarahan belum berhenti. Pada enam bulan, Pereira mengatakan dirinya mengalami anemia.
“Saya berpikir, ‘Oke, apakah ini normal?’ Ini terlalu banyak. Saya jadi anemia setelah enam bulan,” kata Pereira.
Pendarahan kemudian berubah menjadi cairan kental. Pereira pun pergi ke unit gawat darurat. Serangkaian pemeriksaan menemukan massa di rahim, tetapi hasil patologi menunjukkan bahwa itu bukan tumor jinak seperti yang semula diharapkan.
Diagnosisnya adalah leiomyosarcoma uterus atau uLMS. Kanker ini tumbuh di lapisan otot rahim. Ukuran massa mencapai 7 cm, sehingga dokter yang merawatnya menilai Pereira memiliki risiko tinggi mengalami penyebaran kanker.
Apa kaitan pil KB dengan kanker rahim Pereira?
Dokter yang menangani Pereira menjelaskan bahwa tumornya memiliki reseptor estrogen dan progesteron. Keberadaan reseptor itu berarti hormon tersebut dapat mendorong pertumbuhan kanker.
Gina D’Amato, ahli onkologi medis sarkoma di Sylvester Comprehensive Cancer Center, mengatakan estrogen yang muncul dalam siklus menstruasi Pereira mungkin turut mendorong pertumbuhan tumor. Menurut D’Amato, hormon tambahan dari pil KB bisa membuat gejala berkembang lebih cepat dan membantu kanker terdeteksi.
D’Amato juga menekankan bahwa Pereira tidak menggunakan pil KB dalam waktu lama. Ia menilai temuan kanker saat itu mungkin justru membantu pasien mengetahui kondisi yang sebelumnya tersembunyi. Penjelasan itu merujuk pada kasus Pereira, bukan bukti bahwa pil KB menyebabkan semua kanker rahim.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.