JAKARTA — Target 1.069 Kampung Nelayan Merah Putih yang masih dibangun adalah bagian dari upaya pemerintah memperluas fasilitas ekonomi bagi nelayan; Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebut konstruksinya ditargetkan rampung pada 24 Desember 2026.
Bagi masyarakat pesisir, pekerjaan berikutnya bukan cuma menuntaskan bangunan, tetapi memastikan fasilitas pendukung bisa digunakan.
Trenggono menyampaikan target itu sebelum rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Selasa (3/11). Ia mengatakan 100 kampung sudah selesai dan beroperasi, sedangkan 1.069 lainnya masih dalam tahap konstruksi.
Pemerintah menargetkan 1.360 kampung nelayan beroperasi tahun ini. Dengan 100 lokasi yang sudah aktif dan 1.069 dalam pembangunan, tersisa 191 kampung dari target tersebut yang belum beroperasi jika target yang disebut Trenggono tercapai.
Bagaimana perkembangan Kampung Nelayan Merah Putih?
Angka pembangunan juga muncul dalam paparan Kementerian Kelautan dan Perikanan mengenai periode 2025–2026. Sekretaris Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap KKP, Taufiq Budiman Atmamihardja, menyebut total rencana pembangunan mencapai 1.369 lokasi. Angka ini berbeda dari target operasional 1.360 kampung yang disampaikan Trenggono.
Kedua angka itu merujuk pada sasaran yang disampaikan pejabat KKP, tetapi tidak sama. Trenggono berbicara tentang target kampung yang beroperasi tahun ini dan status 1.069 lokasi dalam konstruksi. Taufiq menjelaskan jumlah lokasi pembangunan untuk periode 2025–2026.
Perbedaan cakupan dan sasaran tersebut penting agar angka konstruksi tidak disamakan begitu saja dengan jumlah lokasi yang siap beroperasi.
Trenggono menyatakan siap memberi penjelasan bila Presiden Prabowo meminta pembahasan lebih lanjut. “Saya siap, datanya juga siap,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan itu.
Fasilitas apa yang disiapkan untuk nelayan?
Rencana kampung nelayan mencakup fasilitas untuk mendukung kegiatan perikanan dari laut hingga pemasaran. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya sebelumnya menyampaikan bahwa Presiden meminta perkembangan pembangunan 100 kampung nelayan yang tengah disiapkan pemerintah.
Dalam keterangan pada Jumat (9/10), Teddy mengatakan 100 lokasi itu ditargetkan siap beroperasi hingga akhir 2026. Fasilitas yang disebut meliputi dermaga, pabrik es, penyimpanan dingin atau cold storage, serta pasar untuk transaksi hasil tangkapan.
Rangkaian sarana tersebut punya dampak langsung pada cara nelayan menangani hasil tangkapan. Dermaga mendukung aktivitas melaut, sementara pabrik es dan ruang penyimpanan dingin membantu menjaga mutu ikan setelah ditangkap. Pasar memberi tempat transaksi, sehingga dukungan program tidak berhenti pada pembangunan fisik di kawasan pesisir.
KKP juga membagi rancangan kampung nelayan menjadi tipe hub dan penyangga. Tipe hub dirancang dengan fasilitas lebih lengkap, termasuk cold storage, pabrik es, dermaga, docking dan bengkel nelayan, serta Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan. Tipe penyangga memiliki sarana lebih sederhana dan berfokus pada kebutuhan dasar perikanan tangkap.
Taufiq menyebut rencana pembangunan 1.369 lokasi diperkirakan memberi manfaat kepada sekitar 563.600 nelayan. Jika keluarga nelayan turut dihitung, sasaran penerima manfaat mencapai sekitar 2,2 juta keluarga. Angka tersebut merupakan perkiraan manfaat untuk keseluruhan rencana periode 2025–2026, bukan jumlah kampung yang sudah beroperasi.
Permintaan laporan dari Presiden menempatkan perkembangan proyek dan kesiapan operasional sebagai perhatian pemerintah. Tenggat yang disampaikan Trenggono kini menjadi patokan untuk 1.069 kampung yang masih berada dalam fase konstruksi: 24 Desember 2026.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.