“Penerapan teknologi tersebut memungkinkan proses pengolahan air limbah secara optimal, termasuk menurunkan kandungan bahan organik, padatan tersuspensi, nitrogen, dan fosfor sebelum air hasil olahan dialirkan kembali ke lingkungan sesuai ketentuan,” kata Reza.
Rangkaian pengolahan ini penting karena air limbah tidak cukup sekadar dipindahkan dari permukiman. Kandungan pencemar perlu dikurangi sebelum air kembali ke lingkungan. Bagi warga di kawasan layanan, sistem terpusat dapat mengubah cara limbah rumah tangga ditangani, dari pembuangan yang berisiko mencemari kawasan menjadi pengolahan melalui jaringan dan instalasi khusus.
Bagaimana proyek mengurangi gangguan di jalan?
Pembangunan berlangsung di kawasan perkotaan padat, sehingga metode kerja disesuaikan dengan kondisi lapangan. Untuk fasilitas utama, proyek memakai metode Pneumatic Caisson. Sementara itu, pemasangan pipa bawah tanah menggunakan metode Pipe Jacking.
Pipe Jacking memungkinkan pipa dipasang tanpa penggalian terbuka dalam skala luas. Cara ini diharapkan menekan gangguan terhadap arus lalu lintas dan kegiatan masyarakat di sekitar jalur proyek. Dampaknya terasa langsung selama pekerjaan berlangsung: semakin terbatas kebutuhan membongkar permukaan jalan, semakin kecil pula area yang perlu terdampak penggalian.
Panjang jaringan yang direncanakan mencapai sekitar 74,4 kilometer. Pemasangan pipa sepanjang itu menjadi pekerjaan besar di wilayah yang padat aktivitas, sehingga pilihan metode konstruksi menentukan bagaimana proyek berjalan tanpa memperluas gangguan di permukaan.
JSDP Zona 1 menggabungkan kapasitas pengolahan, teknologi pengurangan pencemar, dan jaringan perpipaan dalam satu proyek sanitasi. Tahap berikutnya adalah pembangunan jaringan dan fasilitas yang akan menghubungkan wilayah layanan di Jakarta Pusat, Jakarta Barat, serta Jakarta Utara.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.