JAKARTA — Baret jingga Kopasgat mengingatkan pada operasi penerjunan AURI di Kalimantan pada 17 Oktober 1947, misi yang menjadi tonggak operasi lintas udara pertama di Indonesia. Warna khas prajurit TNI Angkatan Udara itu lahir dari sejarah perjuangan, bukan sekadar penanda satuan.
Di balik identitas yang mudah dikenali itu, ada permintaan untuk mengirim pasukan payung ke Kalimantan. Mereka ditugaskan membantu gerilyawan, membangun komunikasi, dan menyiapkan lokasi pendaratan bagi pasukan berikutnya.
Arti penting sejarah ini terletak pada peran pasukan dalam mendukung perjuangan di daerah yang membutuhkan hubungan dengan pusat pemerintahan. Misi tersebut menggabungkan penerjunan, pengorganisasian gerilyawan, dan pembangunan jalur komunikasi.
Mengapa Kopasgat memakai baret jingga?
Sejarah baret jingga Kopasgat berawal dari rencana operasi AURI untuk mengirim pasukan payung ke Kalimantan. Gagasan itu muncul setelah Gubernur Kalimantan, Pangeran Mohammad Noor, menyampaikan permintaan kepada Angkatan Udara Republik Indonesia.
Pangeran Mohammad Noor meminta AURI mengirim pasukan untuk membentuk dan mengorganisasi gerilyawan yang membantu perjuangan rakyat setempat. Permintaan itu menempatkan pasukan penerjun bukan hanya sebagai unsur militer, tetapi juga sebagai penghubung dan penggerak di wilayah operasi.
Tugas mereka cukup luas. Pasukan diminta mendirikan stasiun radio induk agar komunikasi antara Kalimantan dan Yogyakarta dapat terhubung. Mereka juga harus menyiapkan daerah penerjunan atau dropping zone untuk kedatangan pasukan selanjutnya.
Komunikasi menjadi bagian penting dari rencana. Stasiun radio induk diharapkan menghubungkan wilayah Kalimantan dengan Yogyakarta, sementara daerah penerjunan membuka kemungkinan bagi pasukan berikutnya untuk masuk.
Siapa yang menyiapkan misi penerjunan?
Kepala Staf AURI saat itu, Komodor Udara Suryadi Suryadarma, menyambut permintaan tersebut. Ia menunjuk Mayor Udara Tjilik Riwoet untuk menyiapkan prajurit yang akan menjalankan misi penerjunan.
Penunjukan itu mengawali persiapan pasukan untuk operasi yang kemudian berlangsung pada 17 Oktober 1947. Peristiwa tersebut tercatat sebagai tonggak penting dalam sejarah operasi lintas udara pertama di Indonesia.
Taruhannya nyata. Pasukan yang dikirim harus membantu mengorganisasi gerilyawan sekaligus membangun sarana komunikasi dan menyiapkan area penerjunan. Tiga pekerjaan itu saling berkaitan: komunikasi mendukung koordinasi, sedangkan lokasi penerjunan membuka jalan bagi kedatangan pasukan berikutnya.
Bagi masyarakat, kisah di balik baret jingga memberi konteks tentang bagaimana sebuah identitas satuan terkait dengan tugas yang pernah dijalankan. Warna yang dikenakan prajurit Kopasgat merujuk pada sejarah operasi dan perjuangan di Kalimantan, bukan hanya pembeda tampilan seragam.
Operasi itu juga memperlihatkan kebutuhan untuk menghubungkan pasukan di daerah dengan Yogyakarta. Permintaan Pangeran Mohammad Noor menempatkan radio dan persiapan daerah penerjunan sebagai bagian dari misi yang sama, bersama upaya membantu gerilyawan setempat.
Dengan demikian, baret jingga membawa ingatan pada tugas awal pasukan penerjun AURI: hadir di Kalimantan, mengorganisasi gerilyawan, serta menyiapkan komunikasi dan daerah penerjunan. Titik sejarahnya tercatat pada 17 Oktober 1947.









📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.