JAKARTA — Bulog mencatat penyerapan gabah petani mencapai lebih dari 4,4 juta ton setara beras sepanjang 2026, rekor tertinggi sejak Indonesia merdeka. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan capaian itu setelah rapat kerja dengan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman pada November.
Realisasi tersebut sudah melewati target awal 4 juta ton, tetapi Bulog tidak akan menghentikan pembelian. Cadangan beras yang terkumpul disiapkan untuk menghadapi potensi gangguan produksi akibat El Nino dan kemungkinan hambatan pasokan pangan dunia.
“Serapan kami saat ini sudah lebih dari 4,4 juta ton setara beras. Serapan itu tertinggi selama Indonesia merdeka, belum pernah sampai angka 4,4 juta ton,” kata Rizal.
Bulog serap gabah untuk memperkuat cadangan
Bulog mempercepat penyerapan sejak awal tahun, setelah muncul proyeksi El Nino yang berpotensi memengaruhi produksi pangan nasional. Perusahaan meminta jajaran pengadaan membeli hasil panen petani semaksimal mungkin sebelum dampak cuaca ekstrem mengganggu pasokan.
Rizal menjelaskan, strategi itu juga mempertimbangkan risiko gangguan pangan global akibat situasi geopolitik. Cadangan beras yang lebih besar memberi pemerintah persediaan untuk menghadapi kemungkinan produksi turun atau pasokan dari luar negeri terganggu.
Langkah tersebut berdampak langsung pada petani: Bulog menyatakan tetap membeli gabah dan beras hasil panen, sehingga hasil produksi memiliki saluran penyerapan. Pembelian mengikuti harga pembelian pemerintah (HPP), yakni Rp6.500 per kilogram. Harga itu menjadi acuan yang disebut Rizal dalam menjelaskan upaya menjaga hasil panen tetap terserap.
“Makanya, Direktur Pengadaan kami, kami perintahkan untuk menyerap beras atau menyerap hasil gabah dari panen petani semaksimal mungkin pada awal tahun,” ujar Rizal.
Penyerapan harian melambat pada November
Volume pembelian harian kini lebih rendah daripada saat panen raya karena produksi gabah mulai berkurang seiring perubahan musim. Pada awal tahun, penyerapan Bulog dapat mencapai 20 ribu hingga 60 ribu ton setara beras per hari.
Pada November, angkanya berada di kisaran 4.000 ton setara beras per hari. Rizal menyebut jumlah itu setara dengan sekitar 8.000 ton gabah.
Penurunan laju harian tidak mengubah komitmen Bulog untuk terus membeli hasil panen. Perbedaan angka antara masa panen raya dan November menunjukkan pasokan yang masuk mengikuti ketersediaan gabah petani, sementara pembelian tetap menjadi bagian dari upaya membangun cadangan.
Rizal menyatakan serapan telah melampaui target awal, tetapi tidak menyebut target baru untuk pembelian berikutnya. Angka penyerapan yang disampaikan Bulog kini telah melewati 4,4 juta ton setara beras.











































📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.