Senin, 9 November 2026 WIB
TEKNOLOGI

Hidrogen Bersih: Biaya Produksi dan Peluang Indonesia

Hidrogen bersih diproduksi dengan dukungan energi terbarukan Indonesia
Produksi hidrogen bersih memerlukan sumber energi dan infrastruktur yang sesuai. (Ilustrasi: AI)

Pink hydrogen juga diproduksi melalui elektrolisis, tetapi memakai tenaga nuklir. Biayanya sekitar USD 3,00 hingga USD 6,00 per kilogram dan emisinya nol. Pengembangannya bergantung pada kebijakan nuklir serta rancangan reaktor baru di tiap negara.

Perbedaan sumber energi itu penting bagi keputusan investasi. Infrastruktur produksi hidrogen tidak berdiri sendiri: pilihan teknologi terkait dengan sumber listrik yang tersedia, biaya, dan target emisi.

Teknologi lain masih menghadapi ketidakpastian

Turquoise hydrogen dibuat melalui pirolisis metana. Biayanya berpotensi berada di kisaran USD 2,00 hingga USD 4,00 per kilogram, dengan emisi rendah dan karbon padat sebagai produk sampingan. Karbon padat itu berpotensi dimanfaatkan, sementara teknologinya masih berkembang.

White hydrogen, atau hidrogen geologis alami, masih dieksplorasi. Biayanya belum diketahui secara pasti, walaupun berpotensi sangat murah dan memiliki emisi nol karena berasal dari sumber alami. Namun, teknologi ini belum terbukti pada skala besar.

Metode solar thermochemical dan photoelectrochemical juga masih berada pada tahap riset dan pengembangan. Biayanya tinggi dan belum pasti, meski keduanya memiliki potensi jangka panjang jika terjadi terobosan.

Ragam pilihan ini memperlihatkan mengapa satu angka biaya tidak cukup untuk membandingkan semua jenis hidrogen. Metode produksi, tingkat emisi, kematangan teknologi, dan kebutuhan kebijakan ikut menentukan nilai ekonominya.

Peluang hidrogen bersih Indonesia

Indonesia memiliki sumber energi surya, angin, panas bumi, dan hidro yang dapat mendukung produksi hidrogen hijau. Jika dikelola dengan baik, sumber tersebut berpeluang memenuhi kebutuhan domestik sekaligus membuka jalan bagi Indonesia untuk menjadi pemain di pasar ekspor.

Dampaknya bergantung pada kemampuan menghubungkan potensi energi dengan fasilitas produksi dan jaringan penyaluran. Penyimpanan serta distribusi perlu mendapat perhatian serius; tanpa infrastruktur itu, hidrogen akan sulit diakses dan harganya dapat tetap mahal.

Karena itu, keputusan investasi perlu menimbang biaya produksi sekarang dan jalur penurunan biaya berikutnya. Mengandalkan hidrogen fosil yang murah tanpa memperhitungkan emisinya membawa risiko, sedangkan mengandalkan hidrogen hijau tanpa menyiapkan infrastruktur dapat menahan penggunaannya.

Strategi bertahap dapat memanfaatkan hidrogen biru sebagai jembatan sambil meningkatkan kapasitas energi terbarukan dan menekan biaya hidrogen hijau. Langkah Indonesia berikutnya bergantung pada kebijakan yang konsisten serta investasi pada produksi, penyimpanan, dan distribusi.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

Artikel Untuk Anda

📲
Ikuti JournalArta di WhatsApp & Telegram

Berita terpenting nasional, ekonomi, dan teknologi langsung di HP-mu. Gratis, tanpa spam.

Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Uji dirimuKuis Sejarah Hari Pahlawan: 10 Soal Pertempuran Surabaya 1945, Berapa Skormu? →
TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru 13 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis