BARITO KUALA — Super Puma jatuh di Barito Kuala saat menjalankan misi pemadaman karhutla pada Minggu (8/11/2026), dan BNPB akan mengevaluasi seluruh aspek operasi udara. Insiden di Sungai Barito itu mendorong peninjauan dari kelayakan helikopter hingga kondisi lingkungan penerbangan.
Helikopter angkut Super Puma H-225 dengan registrasi VH-HGM jatuh di perairan dekat Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. BNPB menyampaikan evaluasi akan mencakup kesiapan armada dan awak, prosedur penerbangan, serta proses pengambilan air untuk pemadaman.
Evaluasi ini menyangkut keselamatan kru yang menjalankan misi udara dan keberlanjutan operasi pemadaman karhutla. Pemeriksaan terhadap cara helikopter bermanuver saat mengambil air juga akan menjadi perhatian.
BNPB periksa empat aspek operasi udara
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan evaluasi akan dimulai dari kondisi teknis dan kelayakan helikopter yang digunakan. BNPB juga akan menilai kesiapan serta kompetensi awak pesawat.
“Pertama, kesiapan teknis dan kelayakan armada helikopter yang digunakan dalam operasi. Kedua, kesiapan dan kompetensi awak pesawat,” ujar Berton dalam konferensi pers virtual pada Minggu.
Pemeriksaan berikutnya meliputi prosedur penerbangan saat menjalankan misi pemadaman. BNPB juga akan meninjau proses pengambilan air dan pelaksanaan water bombing, yakni menjatuhkan air dari udara ke area kebakaran.
Berton menyebut kedua prosedur itu masuk dalam evaluasi. “Ketiga, prosedur penerbangan dalam pelaksanaan misi pemadaman Karhutla. Keempat, prosedur pengambilan air dan pelaksanaan water bombing,” ujarnya.
BNPB turut memeriksa pengaruh lingkungan di sekitar lokasi. Karakteristik sungai, manuver helikopter, dan cuaca menjadi bagian yang akan dinilai karena berkaitan dengan keselamatan penerbangan saat operasi berlangsung.
Super Puma jatuh saat misi karhutla
Kecelakaan terjadi ketika helikopter menjalankan tugas pemadaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan Selatan. Lokasi jatuhnya berada di perairan Sungai Barito, kawasan Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan.
Informasi mengenai korban dalam bahan pembanding menyebut seorang kru warga negara Indonesia meninggal dunia, sementara dua pilot warga negara asing selamat. Keterangan itu berasal dari laporan evakuasi setelah kecelakaan.
Insiden tersebut memperlihatkan risiko pada operasi udara yang menggunakan helikopter untuk mengambil air dan mengirimkannya ke titik kebakaran. Bagi awak, keselamatan bergantung pada kesiapan armada, kemampuan kru, prosedur misi, dan kondisi di lokasi.
Bagi penanganan karhutla, evaluasi juga penting karena helikopter mendukung pemadaman dari udara. Peninjauan dapat membantu BNPB mengidentifikasi aspek operasi yang perlu diperbaiki sebelum misi serupa dilanjutkan, terutama ketika armada harus bermanuver di sekitar sungai dan menghadapi cuaca setempat.
BNPB belum hanya menyoroti kondisi helikopter. Lembaga itu juga memasukkan cara pengambilan air, pelaksanaan water bombing, serta karakteristik lingkungan ke dalam pemeriksaan.
Ruang lingkup itu mencakup kesiapan sebelum terbang hingga tindakan saat helikopter berada di area operasi. Berton menegaskan evaluasi akan melihat prosedur dan faktor lapangan secara menyeluruh.
“Pertama, kesiapan teknis dan kelayakan armada helikopter yang digunakan dalam operasi. Kedua, kesiapan dan kompetensi awak pesawat,” ujar Berton.











































📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.